page hit counter
Warga Berpenyakit Penyerta Harus Lebih Waspada

Warga Berpenyakit Penyerta Harus Lebih Waspada

MATARAM-Masyarakat Kota Mataram dan NTB Umumnya harus tetap waspada di tengah pandemi Covid-19. Meski tak boleh panik, tetapi kewaspadaan harus ditingkatkan. Khususnya warga yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta.

“Sejak Hari Minggu (18/7) lalu ada peningkatan warga yang meninggal dunia dibawa ke IPJ (Instalasi Pemulasaraan Jenazah) RSUD Kota Mataram. Ada tujuh warga yang meninggal. Hari ini (kemarin, Red) ada enam orang,” terang Dokter Forensik sekaligus Kepala IPJ RSUD Kota Mataram dr. Arfi Syamsun Sp.KF kepada Lombok Post, kemarin (22/7)

Enam warga yang meninggal terkonfirmasi Covid-19 kemarin memang bukan seluruhnya warga Kota Mataram. Tiga orang berasal dari Lombok Barat dan sisanya dari Mataram. Usia warga yang meninggal terkonfirmasi Covid-19 ini terbilang masih muda. Mulai dari HS, usia 17 tahun warga asal Kelurahan Babakan. Yang paling tua NL usia 59 tahun. “Rata-rata semuanya yang meninggal punya penyakit komorbid atau penyakit penyerta,” ungkap dr Arfi, sapaannya.

Namun, ada juga warga yang meninggal tanpa memiliki penyakit penyerta. Misalnya di Hari Minggu lalu, tujuh orang dari beberapa kabupaten kota yang ada di NTB meninggal dunia dalam sehari dan salah satu diantaranya tak memiliki penyakit penyerta. Sehingga dengan peningkatan kasus meninggal dunia terkonfirmasi Covid-19, dr Arfi mengimbau agar warga harus disiplin menjalan Protokol kesehatan.

“Tetap pakai masker saat menjalankan aktivitas apapun. Disiplin mencuci tangan, jaga jarak, kurangi mobilitas, jangan berkerumun! Penting juga untuk menyadari atau instropeksi apakah ada komorbid atau tidak di tubuh kita,” ungkap dr. Arfi.

Dengan menyadari adanya penyakit penyerta, maka seseorang bisa lebih waspada dan berhati-hati dalam menerapkan protokol kesehatan. Mengingat risiko buruk terpapar Covid-19 lebih berbahaya dibandingkan yang tidak punya penyakit penyerta. Khususnya yang memiliki penyakit pernafasan, anemia, kencing manis, hipertensi, ginjal, pneumonia, dan penyakit lainnya.

Dosen Fakultas Kedokteran Unram ini juga mengimbau warga untuk segera melakukan vaksinasi. Karena ini bisa mencegah risko buruk terpapar Covid-19. “Jangan lupa juga olahraga rutin, makanan harus kita cukupkan gizinya dan istrirahat cukup. Itu ikhtiar yang bisa kita lakukan,” paparnya.

Melihat terjadinya peningkatan kasus meninggal dunia terkonfirmasi Covid-19, RSUD Kota Mataram membangun tenda untuk jenazah pasien Covid-19. “Setelah kami dapat tujuh jenazah per hari, kapasitas ruang IPJ itu penuh oleh jenazah dan keluarga pasien. Ini menjadi kerumunan baru,” ungkapnya.

Sehingga jenazah yang sudah dimandikan dan dikafani sesuai syariat agama akan dipindahkan dari ruangan IPJ ke tenda. “Jenazah yang sudah bersih dan siap dimakamkan bisa disalatkan di tenda oleh keluarga. Begitu juga untuk non muslim kami juga siapkan tenda. Dua tenda untuk jenazah pasien muslim dan satu tenda besar untuk non muslim,” terangnya.

dr. Arfi mengatakan, pihaknya di IPJ hanya mampu menangani enam jenazah per hari mulai dari pemandian hingga pemakaman. Jika jenazah makin meningkat atau overload, ia mengaku akan mengusulkan agar pihak IPJ hanya melaksanakan pemandian hingga memasukkan jenazah ke dalam peti. “Sedangkan untuk pemakaman bisa oleh relawan dari instansi pemerintah, non pemerintah atau relawan dari ormas keagamaan,” harapnya.

Humas RSUD Kota Mataram Dewi Sayu Vernika mengatakan banyaknya jenazah yang ditangani RSUD Kota Mataram karena rumah sakit ini menjadi satu-satunya yang memiliki isntalasi pemulasaraan pasien Covid-19. Sehingga beberapa rumah sakit lain yang ada di Kota Mataram mengirim jenazah pasien yang meninggal dunia terkonfirmasi positif ke RSUD Kota Mataram.

“Jenazah pasien dari RS Siloam, RSUP NTB, RSI dan yang lainnya dibawa semua ke sini. Jadi petugas kami kadang melakukan pemakaman dari pagi sampai malam,” akunya. (ton/r3)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS