page hit counter
Video : Keluh Kesah Nelayan di Pantai Selong Belanak

Video : Keluh Kesah Nelayan di Pantai Selong Belanak

Beraneka warna dan ukuran perahu berjejer di Pantai Selong Belanak di Desa Selong Belanak Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah. Perahu-perahu itu merupakan milik para nelayan desa setempat. Diwaktu-waktu tertentu mereka harus melaut, guna mencari ikan.

Jika tidak, maka berpengaruh pada asap dapur. Tidak ada uang untuk beli beras. Belum lagi biaya kebutuhan anak sekolah dan masih banyak lagi. Kendati demikian, profesi sebagai nelayan tidak ada bedanya dengan petani. Mereka harus pandai-pandai membaca kondisi iklim cuaca.

Kalau kondisi ombak laut ganas dan angin kencang, maka mereka harus berfikir dua kali untuk melaut. Begitu pula, jika terang bulan. Bagi nelayan itulah musim paceklik. Namun, ada saja yang nekat. Lagi-lagi demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Hanya saja, sebagiannya lagi terkadang memanfaatkan perahu untuk mengangkut wisatawan berkeliling menikmati Pantai Selong Belanak. Per satu orang dikenai biaya Rp 10 ribu. Sayangnya, sejak pandemi Covid-19 pantai diujung selatan barat tersebut sepi pengunjung. Sehingga satu-satunya harapan, melaut dan melaut.

“Ketika suami kami berangkat mencari ikan, kami sebagai istri hanya bisa berdoa,” tandas Inaq Sal, satu dari sekian banyak nelayan Pantai Selong Belanak pada Lombok Post.

Begitu suami selamat dan membawa tangkapan ikan banyak, maka itu bertanda doa dikabulkan Sang Maha Pencipta. Para nelayan-nelayan itu, biasanya melaut hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Ada pula yang sebatas sehari saja. Rata-rata mereka melaut secara berkelompok.

Hasil tangkapan yang paling banyak biasanya ikan tongkol. Kalau di beli di nelayan nya langsung harganya Rp 10 ribu per tiga ekor ikan tongkol. Itu ukuran sedang. Sementara kalau di pasar antara Rp 5 ribu- Rp 10 ribu per satu ekor ikan tongkol.

Selebihnya ada ikan cakalan, cumi, baronang, kakap, tuna dan masih banyak lagi. “Ada yang kami jual ke pasar dan ada pula yang kami jual di pantai,” kata Inaq Sal, sembari membawa satu ember ikan hasil tangkapan suaminya.

Yang di jual di pantai itu biasanya diperuntukkan bagi wisatawan. Biasanya ikan dibakar terlebih dahulu. Kemudian ada yang dimakan langsung dan ada pula yang dibawa pulang. “Tapi, sejak korona ini pendapatan kami ikut turun,” sambung Inaq Hairiah, di tempat yang sama.

Kata dia, karena perputaran uang paling banyak dari wisatawan. Ikan-ikan yang disiapkan di lapak-lapak pedagang, tidak ada yang beli. Kalau pun ada, hanya hitungan jari tangan saja. Disatu sisi, pasar pernah ditutup. Sehingga untuk bertahan hidup, ikan-ikan dijemur dan dikeringkan. Lalu ditukar dengan beras.(*)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS