page hit counter
Unram Dorong Pengembangan Ekonomi Biru di NTB

Unram Dorong Pengembangan Ekonomi Biru di NTB

MATARAMUniversitas Mataram (Unram) mendorong pengembangan ekonomi berbasis Blue Growth (ekonomi biru) di NTB. Ini bertujuan meningkatkan kemajuan ekonomi berbasis kelautan perikanan dengan mengedepankan keterlibatan sosial dan ketahanan lingkungan.

”Indonesia memiliki sumber daya laut yang berlimpah, perlu dikelola secara bijak,” kata Rektor Unram Prof H Lalu Husni saat Studiun General Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), di Ruang Senat Rektorat Unram, Senin (24/5/2021).

Unram kini memiliki Prodi Budidaya Perairan dan Prodi Kelautan. ”Insya Allah setelah menambah satu prodi lagi, bisa kami usulkan untuk mendirikan fakultas,” tambahnya.

Asisten II Sekretaris Daerah H Ridwan Syah mengatakan, Indonesia termasuk negara kepulauan terbesar di dunia. Lokasi sangat strategis dengan garis pantai yang juga termasuk terpanjang di dunia. Indonesia memiliki potensi perikanan, namun pemanfaatannya masih 20 persen. Seperempat orang Indonesia, pekerjaan bergantung pada sektor perikanan dan kelautan.

”Secara empirik kita bisa lihat di Samota, wilayah tersebut belum 10 persen bisa memanfaatkan potensinya,” jelas dia.

Ditegaskan pengembangan ekonomi biru bagi NTB bukan hal yang baru. Tahun 2014 dan 2019 kementerian telah bekerja sama menjadikan lokasi perairan Lombok Timur dan Lombok Tengah sebagai sentral implementasi kegiatan perikanan yang berbasis ekonomi biru.

”Ini diintegrasikan dengan budidaya laut, khususnya lobster, rumput laut, dan pengembangan ekowisata mangrove,” imbuhnya.

Guru Besar IPB yang juga staf ahli KKP-RI Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, munculnya konsep ekonomi hijau sejak 1980-an. Sebenarnya ini merupakan respons atas kegagalan paradigma ekonomi konvesional. Paradigma ini gagal mengatasi kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan kerusakan lingkungan, juga perubahan iklim.

”Ekonomi hijau itu suatu ekonomi yang bisa menyejahterakan masyarakat dan bisa meningkatkan efisiensi budidaya alam,” terangnya.

Mengapa kini hadir ekonomi biru, dikarenakan ekonomi hijau memiliki kelemahan. Kelemahannya itu mengatasi masalah hanya dari sisi ekosistem alam. Dengan kata lain, ekonomi hijau memecahkan fenomena, belum menyentuh akar masalah pembangunan ekonomi kapitalistik.

Selanjutnya implementasi ekonomi hijau umumnya lebih mahal. Karena terlalu memfokuskan pada konservasi dan perlindungan lingkungan. ”Tetapi ini mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial,” jelasnya.

Sebab ekonomi hijau ini hanya cocok untuk negara yang super maju. Jadi, untuk negara yang memiliki pengangguran dan kemiskinan tidak dapat menerapkan ekonomi hijau.

”Itulah Indonesia cocoknya di ekonomi biru,” kata dia. (nur/r9/*)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS