page hit counter

Unram Bedah Pemikiran dan Karya Mendiang HM Husni Muadz

MATARAM-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unram menggelar webinar membedah pemikiran dan karya mendiang H M Husni Muadz. ”Beliau adalah seorang tokoh intelektual, akademisi, dan pemikir, yang lahir dari FKIP Unram,” tegas Dekan FKIP Unram Prof HA Wahab Jufri pada Lombok Post, Kamis(2/9).

Kegiatan ini sebagai bentuk penghargaan FKIP Unram. Selain sebagai senior, mendiang juga telah menjadi inspirator sekaligus motivator. ”Semasa hidupnya, beliau telah merilis sejumlah buku, berisi pemikiran dalam berbagai hasil, yang paling tenar mengenai resolusi konflik,” ujarnya.

Hasil pemikirannya, bukan saja bermanfaat untuk NTB, tetapi juga Indonesia. ”Dan yang mulai di implementasikan hasil pemikiran beliau saat ini, adalah tentang sekolah perjumpaan,” terangnya.

10 pembicara mengisi webinar ini. Ada mantan gubernur TGB HM Zainul Majdi, akademisi H Priyono, Prof H Mahyuni guru besar FKIP Unram, Dosen UIN Mataram H Firdaus, Prof Mansur Afifi guru besar FEB Unram.

Kemudian H Asmuni dari UIN Jogjakarta, Salman Alfarisi dosen Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia. mantan Sekda NTB H Rosiady Sayuti, Budayawan NTB H Lalu Agus Faturrahman, dan Guru Besar FKIP Unram Prof H Mahsun.

”Kami ingin mendokumentasikan kolega, sahabat, murid beliau yang secara tertulis, dan itu akan kami cetak menjadi buku nanti,” tandasnya.

HM Zainul Majdi melihat sosok mendiang sangat fokus terhadap studi Alquran.”Beliau menghadirkan keyakinan, bahwa Alquran merupakan suatu kitab yang haq dari Allah SWT dengan menggunakan teori-teori ilmuan lingustik,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi karya mengenai sekolah perjumpaan. ”Kalau kita lihat dari kata sekolah, ada proses pembelajaran, ada pengetahuan, ada ilmu, lalu dengan perjumpaan itu menghasilkan kebijaksanaan untuk saling berterima,” tegasnya.

H Rosiady Sayuti mengatakan, sekolah perjumpaan yang dirintis sejak 2015, merupakan wujud pembelajaran perilaku dan karakter. ”Dikatakan sekolah ini tidak memiliki ciri fisik seperti sekolah biasa, tapi cirinya adalah komunitas yang ada di dalamnya memiliki collective consciousness,” terangnya.

Untuk terus bersama berlatih dalam setiap perjumpaan mereka. Mempraktikkan nilai-nilai yang akan melahirkan emergence keberterimaan hati. ”Sehingga, dalam keyakinan Abah Husni, yang menjadi bahan diskusi di padepokan beliau di P2BK selama lebih 20 tahun, manusia bisa diperbaiki mindset-nya melalui instrumen perjumpaan itu,” ujarnya.

Ketua panitia kegiatan H Nuriadi Sayip menambahhkan, sosok Husni Muadz bukan saja memikirkan kehidupan dan kebaikan masa kini. Tetapi terus merancang kehidupan masyarakat, semakin maju dan berkeadaban di masa mendatang.

”Beliau juga bukan hanya ahli di bidang linguistik Chomsky, tetapi juga tentang pendidikan primer, sekolah perjumpaan dan sistem sosial budaya bangsa,” jelasnya. (yun/r9/*)

 

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS