page hit counter
Truk Odol Sumber Kerugian Banyak Pihak

Truk Odol Sumber Kerugian Banyak Pihak

MATARAM-Organsisasi Angkatan Darat (Organda) NTB mengusulkan agar penegakan hukum terhadap truk kelebihan muatan atau over dimension over load (Odol) diberlakukan ketat. Kendaraan tersebut harus dinormalisasi dan disesuaikan dengan keadaan semula. Praktik truk odol tersebut dibarengi aksi pungutan liar (pungli) yang tak dapat diselesaikan.

”Jangan lakukan yang lain dulu, tertibkan yang darat ini dulu tentang odol,” kata Ketua Organda NTB Junaidi Kalsum, kemarin (30/7/21).

Ia mencontoh truk yang harusnya bermuatan 20 ton, membawa hingga 26 ton. Menurut pengamatannya, titik kebocoran pungli tersebut terbesar berada di pengawasan jembatan timbang. Minimnya pengawasan keamanan dan regulasi yang mengikat membuat mereka akhirnya harus membayar untuk dapat meloloskan 6 ton muatan yang kelebihan. Hal Ini dianggap biasa karena pembiaran yang sudah menahun, sehingga menambah subur praktik itu. Bahkan bukan tidak mungkin pungli yang terjadi di titik jembatan timbang juga kembali terjadi di pelabuhan atau kapal. Muaranya, retribusi dari sektor ini tak bisa diserap maksimal ke daerah.

”Kalau terus dibiarkan kebocoran ini, untuk retribusi APBD itu tidak akan maksimal,” tegasnya.

Hal ini hanya akan menguntungkan pihak pengusaha. Pungli bukan menjadi persoalan asalkan barang mereka bisa tetap cepat sampai ke tempat tujuan. Untuk itu, pihak instansi terkait aturan perizinan, juga keuangan daerah disarankannya duduk bersama. Ia pun masih menanti mitra kerja antara pemerintah daerah bersama Organda guna membantu memberantas pungli.

Selaras dengan upaya pemerintah menekan pungli terhadap sopir truk pengangkut barang dan menurunkan biaya logistik. ”Tapi selama ini diskusi terkait pungli tak pernah dibahas bersama kami, padahal Organda dibentuk salah satunya untuk membantu pemda memaksimalkan retrbusi,” sindirnya.

Selain itu, dampak dari ketidakpatuhan angkutan truk odol ini juga berpengaruh terhadap infrastruktur yang menjadi lebih cepat rusak. Jalan yang harusnya normal, menjadi gradakan karena berkali-kali dilalui truk berat yang muatannya lebih besar dari ketahanan jalan. Akibatnya miliar bahkan triliunan anggaran harus kembali dikeluarkan untuk memperbaikinya. Laju kendaraan makin lambat, karena pengemudi lain harus menyesuaikan kecepatan dengan truk odol untuk menghindari kecelakaan. Sehingga boros bahan bakar minyak, dan polusi udara makin parah.

”Jadi imbasnya banyak sekali,” tegasnya. (eka/r9)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS