page hit counter
Tokoh-Tokoh Islam pada Masa Penjajahan di Gumi Sasak (Bag 3)

Tokoh-Tokoh Islam pada Masa Penjajahan di Gumi Sasak (Bag 3)

Sasak Heritage – Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan berjudul: Tokoh-Tokoh Islam pada Masa Penjajahan di Gumi Sasak (Bagian 1 dan Bagian 2).

8. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Pancor)

Pada tahun 1937 M didirikan sebuah lembaga pendidikan Islam bernama Nahdlatul Wathan (NW) yang dikelola secara modern. Pendirinya adalah T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dari Pancor-Lombok Timur. Beliau terkenal dengan nama Maulana Syekh atau Tuan Guru Pancor. Dalam usahanya mengembangkan Islam, ternyata beliau juga mendapatkan tantangan dari para ulama Islam lainnya. Para ulama tersebut beranggapan bahwa sistem pendidikan yang beliau kembangkan dianggap bid’ah.

Sampai dengan kedatangan tentara Jepang di Gumi Sasak, perkembangan Nahdlatul Wathan sangat lambat karena mendapatkan halangan dan tantangan dari berbagai pihak. Ulama-ulama itu sangat anti terhadap pengaruh kebudayaan Eropa. Mata pelajaran umum seperti membaca dan menulis aksara latin dianggap sebagai sesuatu yang asing.

T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dilahirkan di Kampung Bermi Pancor, Lombok Timur pada tanggal 17 Rabi’ul Awal 1316 H (1898 M). Nama kecil beliau adalah Muhammad Saggaf. Nama tersebut diberikan oleh ayahandanya yang bernama T.G.H. Abdul Madjid dan dikenal dengan sebutan “Guru Mu’minah” yang kesohor sebagai orang terpandang, saudagar besar dan kaya, serta pemurah. Guru Mu’minah termasuk seorang pejuang yang sangat pemberani, beliau pernah memimpin pasukan dari pihak Raden Rarang menyerang bala Kerajaan Karangasem Bali yang saat itu menguasai Pulau Lombok.

Situasi perjuangan dan semangat jihad T.G.H. Abdul Madjid pada masa itu mendorong putera “Saggaf” kelak menjadi ulama mujahid yang menegakkan panji-panji Islam di negeri ini. Sejak umur 5 tahun, beliau banyak belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar agama pada ayahnya. Pada usia 8 tahun, beliau masuk Sekolah Rakyat, 4 tahun di Selong, dan 4 tahun kemudian berhasil menamatkan sekolahnya dengan prestasi yang sangat gemilang. Sebagai santri, beliau juga belajar nahwu, sharaf, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya pada T.G.H. Syarafuddin Pancor dan T.G.H. Abdullah bin Amaq Dulaji.

Untuk mewujudkan cita-cita sang ayah agar putera kesayangannya kelak menjadi ulama besar, maka ayahanda Saggaf membawanya ke tanah suci Mekah untuk melanjutkan pelajaran dan mendalami ilmu-ilmu keislaman. Begitu mendalam kasih sayang orang tuanya kepada pendidikan beliau, sampai-sampai ayahandanya pun ikut bermukim di tanah suci Mekah. Selain belajar di Mekah, beliau juga banyak berguru pada ulama-ulama besar yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, dan lain-lain. Setelah tumbuh dewasa, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Majid banyak memberikan pengajian di seluruh pulau Lombok, bahkan sampai ke luar daerah.

9. TGH Mahsun (Masbagik)

T.G.H. Mahsun dilahirkan di desa Danger, kecamatan Masbagik, kabupaten Lombok Timur pada tahun 1907 M. Nama kecil beliau adalah Ahmad. Nama tersebut diberikan oleh orang tuanya, H. Mukhtar dan Hj. Raodah. Kelahiran putera yang satu ini sangat menggembirakan hati kedua orang tuanya. Mereka berharap kelak anaknya akan sangat berguna dalam membina dan mengembangkan ajaran agama Islam.

Sejak masih kecil, beliau banyak belajar membaca Al-Qur’an dan mempelajari dasar-dasar agama dari orang tuanya. Pada usia 8 tahun, beliau masuk Sekolah Rakyat dan melanjutkan pendidikannya ke Ibtidaiyah. Kerasnya didikan orang tua berdampak positif terhadap Ahmad, sehingga pada masa kanak-kanak, Ahmad telah memperlihatkan keberanian, kejujuran, dan bakat kepemimpinan.

Setelah cukup dewasa, ia banyak belajar tauhid, fiqh, dan lain-lain, pada ulama-ulama ternama, seperti T.G.H. Badarul Islam (Pancor). Untuk lebih meningkatkan pemahamannya terhadap ilmu-ilmu agama, beliau pun kemudian belajar ke Mekah dan menempuh pendidikan selama 4 tahun terhitung sejak tahun 1936 M sampai dengan 1940 M. Setelah pulang dari Mekah, beliau banyak memberikan pembinaan dan pengembangan agama Islam kepada masyarakat hampir di berbagai tempat di seluruh Lombok Timur. Lembaga pendidikan yang berdiri berkat jasa beliau adalah Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ummah (Yadinu) dan Al Ijtihad di Danger. Kedua lembaga pendidikan tersebut sampai sekarang masih ada.

Sumber: Gumi Sasak dalam Sejarah
Foto: Tuan Guru Pancor (kedua dari kanan)
Sumber: nwdayangunung.blogspot.com

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS