page hit counter
Streaming Film Yes God Yes 2019 Sub Indo

Streaming Film Yes God Yes 2019 Sub Indo

Film yang lebih baik tidak bakal membuatnya memergoki, melainkan membangun relasi yang padat dan emosional pada Alice bersama orang-orang Gereja yang membuatnya terasa terttekan itu. Drama mereka bakal digali, bisa saja bersama pastor yang menceritakan pengalamannya pernah suka nonton bokep, atau apa pun yang menyebabkan cerita berkembang dari Alice yang awalnya mengantagoniskan mereka.

Namun Yes, God, Yes malah menentukan untuk meng-conjure adegan alice ketemu ‘manusia bercela’ dan menyatakan dia lebih gampang membuka diri di depan orang-orang yang gak judgmental. Di sinilah letak persoalan penyampaian agenda film ini. Yes, God, Yes begitu set out untuk mengkotakkan mana golongan yang judgmental dan fake, dan mana yang tidak, waktu kita tidak amat melihat bangunan kokoh atas segi itu, melainkan termasuk hanya berdasarkan judgment kita sendiri.

Untuk tidak ikutan bias seperti mereka-mereka yang ngasih nilai tinggi bikin film ini hanya gara-gara seusai bersama narasi dan agenda mereka, aku termasuk gak mau ngasih film ini nilai rendah hanya gara-gara gak sesuai bersama pesan yang menurutku lebih kuat. Maka mari melihat film ini secara objektif penceritaan saja.

Dan kupikir, setelah kita menyaksikan Lady Bird yang menyatakan Katolik itu tidak wajib sebagai sangkar antagonis yang memenjarakan karakternya, kita gak wajib ulang menyaksikan film komedi banal seperti Yes, God, Yes ini. Alice adalah sifat yang ditulis bersama lemah. Film tidak memberikannya waktu untuk karakternya terset-up bersama baik.

Alih-alih memperlihatkan, film menentukan untuk menjadikan backstory Alice sebagai misteri yang jadi hook cerita – berkenaan apakah Alice amat melaksanakan perihal yang digosipin semua sekolah pada waktu pesta. Ini menyebabkan jarak pada kita bersama Alice. Hobi Alice termasuk gak berpengaruh langsung pada cerita. Dia dibikin hobi main game ular di Nokia, and that’s it. Seperti dimasukin bikin denyutan nostalgia saja.

Pun, hubungannya bersama keluarga, hubungannya bersama sahabat, hubungannya bersama guru dan pastor, tidak tersedia yang sempat diceritakan bersama matang. Semuanya datang-pergi bersama cepat. Film ini mencukupkan dirinya di 78 menit, bukan gara-gara penulis gak dapat untuk bikin lebih panjang. Tapi gara-gara jikalau dipanjangin lagi, jikalau drama dan relasi-relasi berikut digali lebih dalam, ceritanya jadi gak sesuai ulang bersama agenda judgmental yang diusung oleh film. Jadi film ini menentukan untuk senantiasa pendek. Dan memang jadi kayak film pendek yang dipanjang-panjangin, ditarik begitu aja supaya jadi tipis.

Bayangkan karet balon yang ditarik supaya jadi hampir transparan. Sepeti itulah film ini. Mereka seharusnya nambah lapisan drama, untuk menyebabkan film jadi lebih berbobot, penting, tanpa mengurangi keinosenan yang jadi ujung tombak. Lagipula, meningkatkan durasi tentu saja bukan tingkah laku dosa.

Meski memang banyak moment relateable yang membawa kita ke masa waktu tetap polos, tapi moment cringe termasuk tak kalah banyaknya sampai kita ingin bilang ‘oh, God, no’ Kapan pertama kali kalian nonton bokep? Apakah kalian tetap ingat reaksi pertama kalian waktu menontonnya? Apakah kalian tetap terasa bersalah atau canggung jikalau waktu ini nonton dan ketahuan oleh orangtua?

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS