page hit counter

Sambut Ekonomi Bangkit 2022, Brand Wajib Adopsi Strategi Omnichannel

Pandemi Covid-19 telah mengakselerasi industri e-commerce dan mendorong kesiapan pasar Indonesia pada sistem ritel yang omnichannel. Sistem dengan model bisnis lintas channel yang menghubungkan operasional bisnis online dan offline ini menjadi formula tepat untuk kedepannya.

Head of Katadata Insight Center (KIC), Adek Media Roza mengatakan, e-commerce di Indonesia diproyeksikan masih terus bertumbuh hingga 21 persen pada tahun 2025 mendatang.

Riset tersebut mengungkapkan, umumnya produk yang paling dicari dan dibeli adalah fesyen dan aksesoris. Untuk kanal dan promo belanja preferensi konsumen yaitu marketplace sejumlah 85,6 persen dan diikuti dengan social commerce dan website brand. Promo menjadi alasan utama konsumen menggunakan marketplace.

“Strategi omnichannel membantu brand meningkatkan penjualan dan menjangkau konsumen yang lebih luas dan beragam. E-commerce enabler seperti SIRCLO membantu brand menjadi omnipresent melalui integrasi dengan beragam industri,” ujarnya dalam webinar, Rabu (27/10).

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris SIRCLO dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (2015-2019) Triawan Munaf mengatakan, sekitar 74,5 persen konsumen tetap berbelanja secara offline dan online saat pandemi, walaupun lebih banyak memilih berbelanja online.

Triawan menjelaskan, omnichannel menjadi strategi yang samgat penting, karena sangat tepat diterapkan pada masa pandemi dan seterusnya. Menurutnya, brand membutuhkan sebuah strategi yang mengintegrasikan sumber daya offline dan online mereka.

Konsumen di Asia Tenggara pun mulai menuntut adanya pengalaman berbelanja yang seamless di setiap platform. “Dengan demikian, strategi omnichannel menjadi solusi untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang konsisten serta dipersonalisasi,” tuturnya.

Strategi omnichannel, kata Triawan, sudah paripurna. Sebab, strategi ini menggabungkan kanal online dan offline mulai dari pembayaran, touch point penjualan, fulfillment & investaris, logistik dan pengiriman, ERP, dan pelanggan.

Triawan juga memprediksi, pada tahun 2022 mendatang e-commerce di Indonesia akan bergerak bersama-sama (hand-in-hand) dengan toko offline. Akses untuk berbelanja online pun akan terdistribusi dengan lebih merata dari daerah Jawa maupun luar Jawa.

“Tidak dipungkiri, masa depan retail di Indonesia akan menjadi sebuah gabungan antara kanal belanja online dan offline,” imbuhnya.

Di sisi lain, dia melanjutkan, para pelaku UMKM dituntut untuk bisa berpikir konstruktif agar produk-produk lokal mereka bisa berkembang dengan cepat. Saat ini para pelaku UMKM lokal sudah sangat tahu kompetisi pasar sehingga mereka berlomba-lomba dalam membuat keunikan produk.

“Sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia, tentunya sangat penting bagi UMKM di Indonesia untuk gencar go digital dan memanfaatkan peluang yang menunggu baik di pasar lokal maupun internasional,” pungkasnya. (JPG)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS