page hit counter

PPKM NTB Diperpanjang Hingga 6 September, Status Tetap Level III

JAKARTA-Pemerintah memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mulai hari ini hingga 30 Agustus untuk Jawa dan Bali. Sementara untuk NTB, PPKM diperpanjang hingga 6 September sesuai dengan kebijkaan di luar Jawa dan Bali.

Beberapa daerah yang semula berada di level 4 mulai turun ke level 3. ’’Aglomerasi Jabodetabek, Bandung Raya, dan Surabaya Raya sudah bisa diturunkan dari level 4 ke level 3,’’ kata Presiden Joko Widodo kemarin (23/8).

Presiden mengapresiasi penurunan level PPKM di sejumlah kabupaten/kota. Di Jawa dan Bali, dari 67 kabupaten/kota yang semula berstatus PPKM level 4 kini turun menjadi 51 kabupaten/kota. Hal yang sama terjadi di luar Jawa dan Bali. Dari semula ada 132 kabupaten/kota yang menduduki PPKM level 4, kini tinggal 104 daerah.

Pemerintah pun melakukan penyesuaian aturan PPKM. Misalnya, tempat ibadah diperbolehkan dibuka dengan kapasitas 25 persen atau maksimal 30 orang. Restoran diperbolehkan melayani makan di tempat. Syaratnya, kapasitas 25 persen dan satu meja hanya boleh diisi dua orang. Pengoperasiannya pun dibatasi hingga pukul 20.00.

Selanjutnya, pusat perbelanjaan dan mal juga boleh dibuka. Kapasitasnya 50 persen. Jokowi berpesan agar pembukaan itu dibarengi dengan protokol kesehatan yang ketat. Industri ekspor dan impor serta pendukungnya boleh beroperasi 100 persen. ’’Tapi, jika ada klaster, akan ditutup lima hari,’’ ujarnya.

Dalam penyesuaian aturan PPKM tersebut, Jokowi berpesan agar protokol kesehatan tetap dijalankan. Semua pihak harus tetap waspada. Sebab, ada banyak negara yang kini menghadapi Covid-19 gelombang ketiga.

Pada saat yang sama, Presiden pun mengapresiasi terkait capaian vaksinasi Covid-19 yang diberikan ke masyarakat. Vaksinasi ini harus terus ditingkatkan jumlahnya hingga terbentuk kekebalan komunitas.

“Dalam beberapa hari terakhir saya melihat cakupan vaksinasi terus meningkat dan saat ini 90,59 juta dosis vaksin sudah disuntikkan,” ujar Jokowi.

Dengan capaian tersebut, lanjut Jokowi, dirinya meminta kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk meningkatkan angka vaksinasi Covid-19 ke 100 juta dosis vaksin.

“Saya minta ke menteri kesehatan sampai akhir bulan Agustus ini kita harus bisa mencapai penyuntikan sampai 100 juta vaksin,” katanya.      Itu artinya, dalam sepekan ke depan, 10 juta warga sudah harus mendapat suntikan vaksin pertama.

Khusus untuk NTB, hingga kemarin, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, telah menerima 936.880 dosis vaksin semenjak penyaluran pertama Januari tahun ini. Hingga kemarin, lebih dari 791 ribu warga NTB telah mendapat suntikan vaksin dosis pertama dan dosis kedua. Dalam sepekan terakhir, rata-rata dalam sehari, NTB memvaksin sebanyak 8.467 orang setiap hari.

Kendati begitu, jumlah ini masih sangat jauh dari target. Sebab, untuk mencapai herd immunity, NTB setidaknya harus memvaksin 3,9 juta warganya. Itu berarti, masih ada 3,2 juta warga NTB yang tengah menunggu suntikan vaksin dosis pertama mereka.

Sementara itu, Koordinator PPKM Darurat luar Jawa-Bali yang juga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan pers tadi malam menyatakan, PPKM di luar Jawa-Bali diperpanjang mulai 24 Agustus hingga 6 September 2021. Seluruh detail perpanjangan ini akan diatur dalam Instruksi Mendagri.

Dia menjelaskan, di luar Jawa dan Bali, ada perkembangan level assessment yang sedikit membaik. Wilayah PPKM Level 4 dari 11 provinsi kini menjadi 7 provinsi. Dari sisi kab/kota, level 4 juga turun dari 132 menjadi 104

Kemudian level 3 dari 215 kab/kota menjadi 234. Sedangkan wilayah PPKM level 2 dari 39 kab/kota menjadi 48.

“Kemudian dalam periode 10-23 Agustus, tren konfirmasi harian menunjukkan kecenderungan menurun. Mobilitas di level 4 juga turun, walaupun range-nya masih di bawah 10 persen. Namun ada beberapa juga yang turun tajam,” jelas Airlangga.

Tren kasus Covid-19 di luar Jawa-Bali juga disebut mulai melandai. Hal ini, kata Airlangga, dapat dilihat dari 45 kab/kota yang menerapkan PPKM Level 4, terdapat 11 yang turun ke level 3. Wilayah ini termasuk Bengkulu Utara, Tulang Bawang Barat, Lampung Selatan, Lampung Barat, Kota Dumai, Ende, Sikka, Rokan Hulu, dan Siak.

“Sisa 34 kabupaten tetap berada di level assessment 4, dan ini semuanya nanti akan dituangkan dalam Instruksi Mendagri,” tutur Airlangga.

Sementara itu, Koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali yang juga Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, wilayah Semarang Raya juga turun ke level 3. Sementara itu, kondisi wilayah aglomerasi Bali, Malang Raya, Solo Raya, serta DI Jogjakarta belum membaik. Statusnya masih level 4. ”Tetapi, kami perkirakan turun menjadi level 3 pada beberapa minggu ke depan dengan perbaikan yang terus-menerus,” kata Luhut.

Testing dan tracing juga tak boleh kendur. Sejauh ini dengan pelibatan TNI dan Polri, ada peningkatan angka rasio kontak erat pada 20 Agustus yang mencapai 6,5. Sebelumnya, pada 31 Juli lalu hanya 1,9.

 

Indikator Kematian

Sementara itu, Menteri Luhut Binsar Pandjaitan juga menjelaskan, dalam evaluasi level PPKM, Pemerintah kembali memasukkan data indikator kematian sebagai penilaian asesmen level sesuai acuan yang ditetapkan oleh WHO.

“Hal ini terjadi karena perbaikan data kematian di beberapa wilayah yang sudah lebih baik, dan telah kasus-kasus kematian yang sebelumnya tidak terlaporkan sudah banyak dilaporkan,” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, tadi malam.

Namun, Luhut memperkirakan, dalam beberapa hari kedepan akan kembali terjadi kenaikan tren kasus konfirmasi dan juga kasus kematian akibat tabungan kasus konfrimasi dan kematian yang dikeluarkan oleh beberapa Kabupaten atau Kota.

“Terkait angka kematian yang masih tinggi di beberapa wilayah ini, dalam arahannya, Presiden meminta secara khusus untuk segera dilakukan pengecekan dan intervensi di lapangan,” tuturnya.

Luhut memaparkan, salah satu penyebab tingginya angka kematian adalah masih enggannya masyarakat untuk melakukan isolasi terpusat sehingga terjadi perburukan ketika melakukan isolasi mandiri yang menyebabkan telatnya mereka dibawa ke fasilitas kesehatan.

Dengan demikian, pemerintah kembali terus menghimbau dan mengajak masyarakat yang terkonfirmasi positif Covid-19 agar dapat segera masuk ke dalam pusat-pusat Isolasi yang telah disediakan jaminan obat-obatan, tenaga kesehatan, dan makanan.

“Izinkan saya menyampaikan bahwa Positif Covid-19 bukanlah aib yang harus ditutupi, mari cegah sedari dini. Supaya kita tentunya bisa saling menjaga dan terhindar dari pandemi ini,” tegasnya.

Luhut melanjutkan, penyesuaian yang dilakukan dalam beberapa minggu belakangan telah berdampak pada kenaikan mobilitas dan aktivitas masyarakat. “Hal ini terdeteksi dari Indeks Komposit dan Mobilitas Google yang mengalami peningkatan,” imbuhnya.

Luhut menganggap, hal ini merupakan sesuatu yang positif karena pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat berjalan dengan cepat. Namun di sisi lain peningkatan mobilitas masyarakat berpotensi meningkatkan penyebaran kasus. Jadi kita harus sangat berhati-hati.

“Pemerintah telah menerapkan uji coba protokol kesehatan dan penggunaan aplikasi Peduli Lindungi sebagai sarana skrining untuk mengurangi penularan covid-19 di tempat-tempat publik dan keramaian, seperti mall/pusat perbelanjaan, venue olahraga outdoor, dan pabrik-pabrik industri,” ungkapnya.

 

Anomali di Bali

Sementara itu, meski saat ini sudah separo lebih penduduk Bali mendapatkan vaksin dengan 1,6 juta penduduk di antaranya sudah divaksin dosis kedua, pada Agustus terjadi lonjakan kasus. Itu disebabkan kurang cepatnya vaksinasi massal sehingga efeknya saat ini belum terlihat.

Menurut ahli virologi Universitas Udayana Prof I Gusti Ngurah Kade Mahardika,  kasus yang meningkat itu seperti anomali. ’’Ini seperti berpola mundur dari puncak kasus di Indonesia,” ujarnya dilansir Radar Bali.

Selain itu, pertambahan kasus terjadi, pada saat yang sama juga dilakukan vaksinasi. ’’Vaksinasi dilakukan saat kasus sudah meninggi itu juga tidak efektif. Ada banyak hal penyebabnya. Misalnya, timing-nya belum tepat. Kan vaksinasi di Bali gencar dilakukan saat kasus naik, pada Juli. Jadi, efeknya belum kelihatan,” jelasnya.

Selama PPKM, kerumunan di sejumlah tempat tidak bisa dicegah. Bahkan, kegiatan vaksinasi juga tetap menimbulkan keramaian. Hal itu bisa menjadi penyebab penularan Covid-19.

Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan, peningkatan kasus Covid-19 di Bali cukup tinggi karena adanya varian Delta yang cepat menyebar. Penanganan pasien Covid-19 di rumah sakit juga memerlukan oksigen yang kebutuhannya terus meningkat.

 

Peduli Lindungi

Di sisi lain, pemerintah menginisiasi pengembangan aplikasi PeduliLindungi dalam rangka mengoptimalkan perlindungan kesehatan masyarakat dan meminta partisipasi warga untuk mengunduh dan memanfaatkan teknologi tersebut. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan dapat mempermudah dan menyingkat alur informasi, efektif, dan adaptif diadopsi dalam beragam sektor.

Selain itu, teknologi digital berperan penting dalam memandu jarak atau lokasi, yang merupakan fitur penting dalam pengendalian penyebaran Covid-19.

“Pengaplikasian teknologi digital dalam mendukung penerapan protokol kesehatan dan 3T yakni Testing, Tracing, Treatment adalah salah satu upaya krusial dalam pengendalian pandemi. Dengan itu, masyarakat perlu mulai membiasakan diri dengan teknologi digital dalam kehidupan sehari-harinya, salah satunya adalah pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate dalam keterangannya, kemarin.

“Fungsi utama aplikasi ini adalah bagi perlindungan diri kita sendiri serta orang-orang di sekitar. Karena itu, pemerintah sangat mengharapkan peran aktif masyarakat untuk segera mengunduh dan memanfaatkannya,” sambungnya.

Johnny juga menjelaskan, bahwa aplikasi tersebut bisa membantu setiap warga melakukan surveilans kesehatan berupa penelusuran (tracing), pelacakan (tracking) dan pengurungan (fencing) terhadap anggota masyarakat yang diduga mengidap COVID-19. Hal itu sejalan dengan keputusan khusus yang sudah dikeluarkan pemerintah agar penyelenggaraan tracing, tracking, dan fencing dilakukan melalui infrastruktur, sistem, dan aplikasi telekomunikasi.

Pemanfaatan PeduliLindungi juga penting dalam penerapan perpanjangan PPKM, di mana pemerintah melaksanakan beberapa uji coba penyesuaian aktivitas masyarakat. Salah satunya, sebagai fungsi skrining untuk memasuki suatu tempat atau area.

“Melalui aplikasi PeduliLindungi, orang tersebut dapat diperiksa status vaksinasinya, hasil tes Covid-19 atau apakah ada kontak eratnya dengan pasien Covid-19,” ujar Johnny.

Dia menegaskan, saat ini terdapat enam sektor yang menjadi fokus pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi dalam hal skrining, yaitu perdagangan yang merupakan pusat perbelanjaan, pasar modern dan pasar tradisional; transportasi berupa darat, laut dan udara; pariwisata yakni hotel, restoran, event maupun pertunjukan; kantor maupun pabrik yakni sektor pemerintah, swasta, bank, pabrik besar, UMKM/IRT; keagamaan yakni masjid, gereja, wihara, pura, kegiatan keagamaan; pendidikan yakni PAUD, SD, SMP/SMA, Perguruan Tinggi.

“Sebagai contoh, berikut penggunaan PeduliLindungi (PL) dalam penerapan protokol kesehatan di pusat perbelanjaan/mal. Pengunjung wajib check in dengan aplikasi PL, diperiksa suhu badannya di pintu masuk, serta mendapatkan barcode sesuai riwayat vaksinasi dan test Covid-19,” ucap Johnny.

Dia menjelaskan, barcode hijau untuk pengunjung yang sudah vaksin (minimal dosis pertama), bukan kasus Covid-19, dan bukan kontak erat. Mereka diperbolehkan masuk mal dengan standar prokes hijau.

Sementara itu, barcode kuning untuk pengunjung yang belum vaksin, bukan kasus Covid-19, dan bukan kontak erat. Mereka juga diizinkan masuk mal, namun dengan standar prokes kuning. Terakhir, adalah pengunjung dengan barcode merah yang tidak diperbolehkan masuk mal, bagi pengunjung yang memiliki kasus Covid-19 dan kontak erat.

“Dinas Kesehatan akan melakukan random check kepatuhan prokes dan mengambil tindakan bila terjadi pelanggaran prokes dan/atau peningkatan kasus,” pungkas Johnny. (tau/lyn/dee/han/feb/pit/c7/fal/JPG/r6)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS