page hit counter
Perpustakaan Haruki Murakami Di Universitas Waseda Akan Segera Dibuka

Perpustakaan Haruki Murakami Di Universitas Waseda Akan Segera Dibuka


“Mungkin begini: Bukan aku yang bermasalah, melainkan dunia di sekelilingku. Bukannya bahwa timbul kelainan dalam kesadaran atau pikiranku, melainkan bahwa satu daya yang tak jelas telah membuat dunia di sekelilingku berubah.”

Tulisan di atas merupakan penggalan kalimat yang terdapat di cover belakang novel berjudul 1Q84 karya penulis terkenal asal Jepang, Haruki Murakami. Sosok pria yang lahir di Kyoto ini merupakan salah satu penulis yang juga sering mendapat kritikan dari Badan Literatur Jepang. Meski begitu, karya-karyanya justru banyak disukai bukan hanya orang Jepang saja, bahkan novelnya hingga dibuat ke dalam beberapa bahasa seperti, Indonesia dan Inggris.

Dua tahun lalu, tersiar kabar bahwa kampus Haruki Murakami, Universitas Waseda berencana untuk membuka perpustakaan baru yang didedikasikan untuk sang penulis. Sekarang, penantian panjang tersebut akhirnya berakhir karena perpustakaan akan dibuka pada tanggal 1 Oktober mendatang.

Perpustakaan Haruki Murakami
Photo: ©Kengo Kuma & Associates

Dilansir dari Timeout, secara resmi disebut Waseda International House of Literature, perpustakaan Haruki Murakami dirancang oleh ahli starchitect Kengo Kuma. Gedung ini akan menampung arsip pribadi sang penulis, yang telah ia sumbangkan, serta koleksi karyanya yang diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Perpustakaan juga bukan menggunakan gedung baru, tetapi gedung No 4 kampus yang direnovasi dan di perpanjang. Ini tentunya jadi lokasi yang tepat, karena bangunan itu awalnya menampung Museum Teater Memorial Tsubouchi, yang sering dikunjungi Murakami sebagai mahasiswa teater. Di Waseda, Murakami sendiri belajar drama, bukan sastra, dan tidak benar-benar menulis novel pertamanya sampai dia lulus dari Waseda.

Pada tahap awal memberikan sumbangannya ke kampus, Asahi Shimbun mengutip Murakami yang mengatakan, ‘Saya telah menjadi novelis selama sekitar 40 tahun dan pada saat itu, saya telah mengumpulkan lebih banyak materi daripada yang dapat saya kerjakan.’ Murakami juga menggambarkan bagaimana memberikan draft kasar, manuskrip tulisan tangan bersama dengan koleksi pribadi 20.000 piringan hitam kepada almamaternya terasa seperti hal yang wajar untuk dilakukan karena dia tidak memiliki anak untuk mewarisi harta miliknya.

Alih-alih menjadi ruang formal untuk belajar dan berbisik dengan nada lirih, Kuma membayangkan perpustakaan baru sebagai tempat yang ramai di mana siapa pun, termasuk Murakami sendiri, bisa datang untuk mendiskusikan karya novelis dan masa depan sastra sambil minum kopi.

Pemesanan sudah dapat dilakukan di situs web Universitas Waseda, namun, sebagai tindakan pencegahan Covid-19, hanya mereka yang tinggal di prefektur Tokyo, Kanagawa, Saitama, dan Chiba yang dapat berkunjung untuk saat ini. Reservasinya sendiri first come, first serve, dengan maksimal 30 orang per sesi.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS