page hit counter
Perkuat Tali Persaudaraan, Masyarakat Desa Danger Selatan Konsisten Pertahankan Tradisi Lebaran Ketupat

Perkuat Tali Persaudaraan, Masyarakat Desa Danger Selatan Konsisten Pertahankan Tradisi Lebaran Ketupat

Kamis, 20 Mei 2021 tepatnya pada 8 Syawal, umat Islam di Indonesia memiliki tradisi yang disebut dengan “Lebaran Ketupat”. Tak terkecuali oleh masyarakat desa Danger Selatan,  kecamatan Masbagik, Lotim. Masyarakat desa Danger Selatan sering menyebutnya dengan “Lebaran Topat”. Tradisi lebaran ketupat diselenggarakan pada hari ke depalan bulan Syawal setelah menjalankan puasa Syawal selama 6 hari. Hal ini berdasarkan pada sunnah nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa selama 6 hari di bulan syawal.

pemuda desa Danger, M. Ro’is Bukhori mengatakan bahwa lebaran ketupat ini menjadi sebuah penghargaan bagi umat Islam yang berpuasa selama 6 hari “Lebaran topat ini kan termasuk sebagai lebaran adat, khususnya di Lombok. Bagi saya, lebaran ini sebagai lebaran penghargaan bagi orang yang berpuasa mulai dari 2 syawal sampai 6 hari (H-1 lebaran topat). Masyarakat secara umum menganggap bahwa puasa 6 hari berturut-turut setelah Idul Fitri lebih afdol, sedangkan di dalam hadis menyebutkan bahwa puasa 6 hari di bulan syawal, tidak harus berturut-turut. Namun puasa 6 hari berturut-turut ini dijadikan tradisi sehingga lahirlah lebaran topat”, tutur pria yang akrab di sapa Oyik tersebut.

Menurut salah satu RT di desa Danger Selatan yakni Bapak Sunardi mengatakan bahwa tradisi lebaran ketupat ini juga dijadikan sebagai ajang memperkuat tali persaudaraan bagi masyarakat desa Danger Selatan “lebaran ketupat ini biasa dilakukan sebagai bentuk mengucap syukur  kepada Allah SWT dengan mengadakan doa bersama untuk diri sendiri dan diniatkan kepada orang tua yang telah mendahului kita, dan sebagai ajang untuk tetap mempererat tali persaudaraan antar masyarakat desa Danger Selatan.  Tradisi ini biasa dilakukan. di masjid Nurul Jihad, sehari sebelumnya kami meminta kepada para Ibu-ibu rumah tangga untuk memasak ketupat beserta pelengkapnya untuk selanjutnya diserahkan ke pihak masjid. Setelah doa bersama para masyarakat akan menyantap hidangan ketupat yang telah disiapkan secara “begibung” atau bersama-sama, sehingga akan terasa nilai persaudaraan antar sesama”. Tutupnya.

Reza Wira Pratama
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS