page hit counter
Pebisnis Lobar Bingung Harus Apa

Pebisnis Lobar Bingung Harus Apa

GIRI MENANG-Dampak pandemi terhadap ekonomi dan pengusaha di Lombok Barat sangat terasa. Dikatakan Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid, hal ini karena banyak masyarakat setempat menggeluti usaha di sektor pariwisata.

”Persentasenya tidak pasti, yang jelas mereka terdampak. Kalau tidak tutup ya omzetnya turun jauh,” paparnya saat mengikuti sebuah kegiatan di Senggigi, Lombok Barat, Rabu (30/6).

Ia mencontoh pelaku usaha perhotelan setempat. Dimana sisi tarif mereka mengurangi harga jual hingga 50 persen. Namun angka keterisian kamar terhitung rata-rata keseluruhan tak lebih dari 20-30 persen.

Pandemi juga membuat Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Lombok Barat terkoreksi. Tahun 2019 kata dia, APBD terhimpun sekitar Rp 2 triliun. Dengan sumbangan sektor pariwisata sekitar 40 persen. Ada juga potensi penambahan sebesar 10 persen pertahun. Artinya, harusnya APBD Lobar 2020 mampu mencapai hingga Rp 2,5 triliun. ”Namun sepanjang 2020 hanya mencapai sekitar Rp 1,7 triliun saja,” imbuhnya.

Selain adanya pengurangan sumber pendapatan, ada juga mata anggaran yang harus direalokasi untuk penanganan pandemi. Seperti stimulus untuk mendongkrak daya beli, serta upaya pemasaran pada produk milik para pelaku usaha agar mereka bisa bertahan. Terbaru, pihaknya melarang masyarakat untuk berbelanja kebutuhan dari luar daerah. Seluruh kebutuhan akan disediakan semuanya melalui koperasi. Kemudahan perpajakan untuk pelaku usaha dengan catatan mereka tak melakukan PHK pada karyawan. ”Kita kumpulkan semua, sosialisasi. Dan ini sudah mulai jalan,” paparnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) NTB Ni Ketut Wolini mengatakan, sudah ada 40-50 persen anggota memilih menutup sementara operasional bisnisnya. ”Sejauh ini pengusaha yang tutup kebanyakan pengusaha kecil. Kalau eksportir besar masih bisa dihitung jari yang tutup, hanya beberapa saja,” katanya.

Mereka tetap membuka bisnis hanya untuk menghabiskan stok yang ada. Terkendala tambahan modal untuk mengisi barang terbaru. Ragam kemudahan dan kebijakan pun dirasa belum banyak membantu. Lantaran pandemi yang masih belum juga usai hingga tahun 2021. ”Walau pun ada keringanan pembayaran seperti restrukturisasi sekalipun, pandemi masih sangat memungkinkan para pengusaha gulung tikar,” katanya. (eka/r9)

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS