page hit counter

Pasar Jepang Terbuka, Saatnya NTB Ekspor Makanan

MATARAM-Kepala Dinas Perdagangan NTB Fathurrahman menyampaikan peluang ekspor ke Jepang amat terbuka lebar. Terlebih kini negeri tersebut sudah menerima cap halal Majelis Ulama Indonesia. Peluang ini penting untuk dimanfaatkan maksimal oleh pelaku usaha, khususnya UMKM. Potensi makanan, termasuk minuman halal kreasi UMKM tidak terlepas dari kualitas dan faktor kesehatan yang dibutuhkan di sana.

”Kaitannya dengan nutrition food dari NTB itu kita punya potensi yang amat besar,” ujarnya yakin, sat ditemui (13/8).

Ia mencontohkan sejumlah hasil produksi makanan halal dan sehat yang melimpah di NTB. Seperti rumput laut, gula aren, jahe merah, dan beragam campuran bahan obat dan makanan yang dianggap ampuh mempertahankan daya tahan tubuuh. Dari sisi kemasannya pun sudah banyak yang berproduksi sesuai standar. Pihaknya tinggal memberikan informasi pasar dan pelatihan hingga mereka dapat memanfaatkan peluang ini. ”Informasi pasar ini penting supaya barang tidak numpuk tidak tahu dijual ke mana,” katanya.

Meski demikian, standar halal bukan satu-satunya persyaratan utama yang diminta negara-negara importir seperti Jepang. Berkaitan dengan kesehatan, maka sertifikasi organik juga dibutuhkan. Namun hal ini masih menjadi tantangan bagi pihaknya menguasai pasar ekspor lebih besar dengan komoditas yang juga lebih beragam. Juga bagaimana penggambaran seluruh proses produksi, SOP, hingga aturan pekerjaan untuk anak di bawah umur.

”Permintaan banyak, potensi produksi besar, tapi memang standarisasi ini belum seluruhnya kita kantongi,” katanya.

Perlu peran dinas terkait membantu mengawalnya. Demi menggencarkan ekspor produk lebih besar ke berbagai negara besar, termasuk Jepang.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB Muhammad Riadi mengatakan, mengantongi sertifikat organik memang tak mudah. Sebab penetapan organik tidak hanya sebatas pemakaian pupuk saja. Tapi sistem irigasinya pun tidak boleh bergabung dengan irigasi persawahan lain yang masih menggunakan pupuk non organik serta pestisida. ”Tapi tidak mudah kita larang, karena penggunaan itu sebenarnya karena petani takut serangan penyakit hama tanaman,” katanya.

Sejauh ini kesulitan sertifikasi ada pada komoditas tanaman pangan. Itu sebabnya sejauh ini paling banyak sertifikasi organik hanya dimiliki tanaman perkebunan seperti kopi, bahkan vanili yang sudah mengantongi sertifikat organik dari Eropa. Sehingga ekspor untuk kedua komoditas ini jauh lebih mudah

”Kalau hilirnya dia organik tapi di hulunya mengandung pestisida, maka susah dia mendapat sertifikat organik,” jelasnya. (eka/r9)

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS