page hit counter
Nonton Film Yes God Yes 2019 Subtitle Indonesia

Nonton Film Yes God Yes 2019 Subtitle Indonesia

Arahan Maine termasuk berhasil menyebabkan Natalia Dyer luar biasa tampil meyakinkan. Natalya bukan favoritku di serial Stranger Things gara-gara tokoh dan permainannya di situ amat generik. Sedangkan di Yes, God, Yes ini, Natalya tampil bersama jauh lebih mantap. Dia terasa otentik memainkan tokoh yang so lost didalam rasa penasarannya.

Yes, God, Yes udah seperti versi yang lebih gampang dan polos dari film Lady Bird (2017) dan Alice sendiri terlihat seperti figur Christine yang jauh lebih polos – Natalya berpotongan mirip Saoirse Ronan, hanya lebih ‘rapuh’. Kedua tokoh didalam film tiap-tiap mengalami persoalan yang serupa, they are both in their sexual awakening, mereka sama-sama bertempat di lingkungan Katolik, supaya gampang bagi kita untuk menarik garis perbandingan.

Pertanyaan terbesar yang mampir dari itu adalah, setelah Lady Bird yang begitu otentik dan natural di segala bidang, tetap perlukah kita menyaksikan Yes, God, Yes? Tentu, Yes, God, Yes ini banyak dikasih nilai bagus oleh para kritikus. It’s only natural berkat ceritanya yang masuk dan amat fit in ke didalam narasi kontemporer (baca: agenda masa now).

Terlebih para SJW didalam kalangan kritikus senantiasa suka bersama cerita-cerita yang menyudutkan peraturan tradisional; tersebutlah agama di dalamnya. Pemahaman narasi film ini adalah pada penekanan bahwa semua manusia itu berdosa. And sure it’s true. Kita gak boleh terasa superior daripada orang lain hanya gara-gara kita lebih taat dan rajin beribadah daripada mereka.

Hanya saja, cara film ini mengemukakan pesannya itu justru seolah Alice jadi berani dan terasa lebih baik pada dirinya sendiri begitu ia jelas orang lain termasuk melaksanakan kesalahan; begitu ia melihat orang-orang yang seharusnya lebih ‘alim’ daripadanya ternyata melaksanakan tingkah laku dosa yang lebih gawat daripada dirinya.

Membuat cerita film seperti begini, untuk menampung gagasan yang true tadi, menjadikan film tidak ‘menantang’ baik bagi Alice maupun bagi kita. Melainkan hanya jatuh ke contoh-contoh banal, like, ‘pfft tentu saja si pastor itu otaknya ngeres, atau tentu saja kakak pembina tidak mahal senyum itu aslinya maniak seks.’

Tentu, kasus-kasus seperti demikianlah memang tersedia dan terjadi di dunia nyata – bila baru-baru ini terkuak soal kekerasan seksual di balik tembok Gereja seperti yang dilansir Tirto – tapi pada film ini, elemen itu dimasukkan tanpa disertai narasi atau bahasan yang memadai. Mereka hanya dimunculkan begitu saja, tak ubahnya sebagai ‘jawaban mudah’ pada kebimbangan tokohnya; suatu hal yang gampang untuk menyebabkan tokoh utama terasa lebih baik.

Pesan yang lebih kuat adalah mengkaji bagaimana mengakui keliru bersama amat jelas kekeliruan itu sendiri. Bagaimana supaya Alice tidak terasa rendah gara-gara tingkah laku wajar yang ia lakukan. Dalam film ini Alice terasa lega setelah diberi penguatan oleh seseorang ‘masak hanya nonton Titanic masuk neraka’, dan bersama dia memergoki orang-orang suci di sekitarnya melaksanakan dosa yang lebih besar daripada ngerewind adegan mobil Titanic atau chat nanyain makna dari slang ‘toss salad’.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS