page hit counter
Nonton Film G 30 S PKI Full Gratis

Nonton Film G 30 S PKI Full Gratis

Seriusan, aku baru 23 tahun. Selama sekolah ataupun di rumah, enggak pernah tersedia yang nyuruh aku nonton. Pas tempo hari Presiden Jokowi bilang perlu dibuat versi millenial-nya, jadi penasaran dong.
Film lokal yang paling pantas menang penghargaan film #Throwback tahun adalah Pengkhianatan G30S/PKI. Film propaganda antikomunis yang berlumur adegan brutal ini ulang hangat dibicarakan menjelang peringatan hari kesaktian pancasila, 1 Oktober. Sepulang ke Indonesia, setidaknya dua tahun belakangan, aku menyadari tiap menjelang hari “kesaktian Pancasila”, sarana akan dipenuhi segala macam berita kegalauan akan kebangkitan komunisme di Indonesia.

Militer Indonesia mengatakan akan menggelar nobar film itu untuk mengingatkan masyarakat Indonesia pada sejarah bangsa “yang benar.”

“Kita perlu ulang meluruskan sejarah bangsa,” kata panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kepada layaknya dikutip Jakarta Globe, pas mengatakan alasan tentara idamkan film itu ulang perlu diputar saban 30 September.

Keriuhan tentang nobar Pengkhiatan G30S/PKI menarik perhatian Presiden Jokowi. Dalam satu kesempatan, Jokowi menyarankan film keluaran 1984 ini, yang perlu diputar setiap 30 September selama Suharto berkuasa, langsung dibuat ulang sehingga bisa dinikmati generasi milenial. Usulan Jokowi memicu perbincangan panas tentang apa kegunaan film propaganda ini.

Film yang disutradarai oleh mendiang Arifin C. Noer itu tak pernah dirancang sebagai film hiburan, layaknya dijelaskan Rektor Institut Kesenian Jakarta, Seno Gumira Ajidarmama.

“Pengkhianatan G30S/PKI menarik untuk dipelajari sebagai masalah saja, bukan untuk dinikmati, bahkan untuk mencari fakta sejarah,” ungkap Seno layaknya yang dikutip kantor berita Antara.

Pengkhianatan G30S/PKI dikenang sebagai film yang menggambarkan secara brutal kudeta gagal yang digalang Partai Komunis Indonesia pada 30 September 1965. Salah satu anggota yang paling membekas dari film itu adalah adegan penyiksaan para jenderal di Lubang Buaya. Anggota PKI, baik laki-laki atau perempuan, yang haus darah dideskripsikan menyiksa para korban dengan sadis sebelum akan memberondong mereka dengan peluru dan melemparkan jasad para jendral itu ke dalam sebuah sumur mati yang pengap dan sempit di dekat bandara Halim Perdanakusuma.

Nyatanya, anggota ini pun terus ramai diperdebatkan. Sejarawan Ben Anderson menulis jenderal-jenderal mati ditembak, serupa sekali tak mengalami penyiksaan. Keterangan ini ditemukan dari sebuah fotokopi laporan otopsi resmi atas mayat para jenderal angkatan darat yang tewas di Lubang Buaya. Cerita tentang penyiksaan kejam yang dialami para jendral yang diedarkan oleh koran punya angkatan bersenjata akhirnya berfungsi sebagai senjata psikologis yang manjur untuk menakuti masyarakat Indonesia. Sejarawan John Rossa dalam bukunya Dalih Pembunuhan Massal menulis lebih kurang setengah juta orang jadi korban operasi penumpasan PKI yang berjalan tak lama setelah usaha kudeta terjadi.

Namun, pihak militer dan anggota keluarga Suharto, keukeuh mengklaim sejarah dalam film GS30/PKI udah sesuai. Tak ayal, belakangan ini ketertarikan menonton, atau bahkan menggelar nobar, film berikut melonjak beberapa tahun terakhir.

Lalu, kenapa sih film ini begitu ramai diperbincangkan? Jujur saja, aku enggak tahu. Film ini pernah jadi tontonan perlu anak yang duduk di bangku sekolah selama Orde Baru. Setiap malam 30 September, film tak akan absen dari layar kaca. Semua orang sepertinya udah pernah saksikan film ini. Kecuali saya.

Ketika aku duduk di kelas 4 SD, orang tua aku memindahkan aku dari sekolah Islam Negeri ke sebuah sekolah swasta lazim yang pengantarnya berbahasa Inggris. Sekolah baru aku ini tak pernah mewajibkan siswanya nonton GS30/PKI. Di kelas, tak pernah tersedia diskusi tentang kudeta PKI. Walhasil, hingga pekan lalu, ilmu aku tentang film terlaris selama pemerintahan Suharto nihil. Lalu, pas film ini ramai diberitakan, aku jadi bertanya-tanya apa sih yang sebetulnya udah aku lewatkan.

Kayaknya sih banyak. Sepulang dari luar negeri, aku berupaya menanggulangi ketertinggalan. Saya sempat masuk sekolah swasta dan tinggal di luar Indonesia selama beberapa tahun. Akhirnya, untuk pertama kalinya, aku duduk dan menghabiskan lebih dari tiga jam untuk saksikan GS30/PKI.

Adalah penulis Leila Chudori yang pertama memperkenalkan aku dengan warisan Orde Baru yang satu ini. Waktu itu, Leila berada di sebuah museum di Seattle untuk membicarakan novelnya, Pulang, yang berkisah tentang para eksil yang tak bisa ulang pulang selepas insiden 30 September 1965.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS