page hit counter
Ngakunya ogah perang dingin, tapi gagasan Biden ini nyatanya bisa pecah belah dunia

Ngakunya ogah perang dingin, tapi gagasan Biden ini nyatanya bisa pecah belah dunia

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden. Foto: BBC

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dalam pidatonya di Majelis Umum PBB beberapa waktu lalu menjadi sorotan. Pasalnya, dia menyinggung soal Perang Dingin. Kata Biden, dia ogah mencari Perang Dingin baru.

“Kita tidak ingin, sekali lagi saya tegaskan, kita tidak ingin memulai Perang Dingin baru atau (membuat) dunia terbagi menjadi blok-blok yang kaku,” kata Biden dalam pidatonya.

“Amerika siap bekerja dengan negara mana pun yang ingin mengupayakan resolusi damai bagi tantangan bersama, meskipun kita terus tidak sepakat dalam bidang-bidang lain, karena kita semua akan mengalami konsekuensi dari kegagalan jika kita tidak bersatu mengatasi ancaman yang mendesak seperti COVID-19, perubahan iklim, atau ancaman terus menerus seperti proliferasi nuklir,” imbuhnya.

Meski dalam pidatonya Biden mengaku ogah mencari Perang Dingin baru, namun nyatanya dia memiliki gagasan yang disebut-sebut bisa menciptakan hal tersebut, dan membuat dunia internasional terbagi menjadi blok-blok.

Joe Biden saat berbicara di Majelis Umum PBB. Foto: AP via TOI
Joe Biden saat berbicara di Sidang Umum PBB. Foto: AP via TOI

Hal itu diungkap oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov. Melalui pidatonya di Majelis Umum PBB, Lavrov mengkritik gagasan Biden untuk mengadakan Leaders Summit for Democracy atau KTT Pemimpin untuk Demokrasi.

Lavrov menyebut gagasan semacam itu merupakan contoh dari Perang Dingin gaya baru dan bakal memecah belah dunia menjadi ‘kita dan mereka’.

Diketahui pada bulan Agustus lalu, Presiden AS Joe Biden melontarkan gagasan untuk mengadakan Leaders Summit for Democracy pada bulan Desember mendatang. Nah, hal itu, ujar Sergey Lavrov, adalah contoh yang sangat jelas dari kebijakan yang memecah belah ini.

“Para peserta, tentu saja, akan ditentukan oleh Washington, yang mengklaim hak untuk menentukan tingkat kepatuhan suatu negara terhadap standar demokrasi. Pada intinya, inisiatif ini – cukup dalam semangat Perang Dingin dan meluncurkan perang ideologis baru melawan semua perbedaan pendapat,” kata Lavrov dilansir RT, Minggu 26 September 2021.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov. Foto: Kementerian Luar Negeri Rusia
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov. Foto: Kementerian Luar Negeri Rusia

“Terlepas dari klaim pemerintah AS bahwa Washington tidak ingin membagi dunia menjadi blok-blok berbasis ideologi, peristiwa semacam itu hanya membuktikan bahwa memang itulah tujuannya. Pada kenyataannya, Leaders Summit for Democracy akan menjadi langkah untuk membelah dunia menjadi ‘kita’ dan ‘mereka’,” lanjutnya.

KTT tersebut direncanakan berlangsung pada 9 dan 10 Desember, dengan para pemimpin ‘demokrasi’ pilihan AS berkumpul untuk melakukan konferensi secara virtual.

Agenda tersebut juga memiliki tujuan yang kabur, dengan Gedung Putih menggambarkannya sebagai “kesempatan bagi para pemimpin dunia untuk mendengarkan satu sama lain, berbagi kesuksesan, mendorong kolaborasi internasional dan berbicara tentang tantangan yang dihadapi oleh demokrasi.”

Artikel dari Hops.ID

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS