page hit counter
Mendengar Belum Tentu Mendengarkan

Mendengar Belum Tentu Mendengarkan

Banyak orang bisa mendengar, tapi belum tentu bisa mendengarkan, belum tentu sanggup mendengarkan orang lain bercerita atau menjelaskan sesuatu dalam waktu lama. Untuk mendengar, kita membutuhkan telinga yang berfungsi dengan baik, namun untuk mendengarkan, kita membutuhkan lebih dari itu. Kita butuh kepekaan rasa. Kita butuh kesadaran untuk mengamati pikiran kita sendiri yang ikut berceloteh ketika orang lain berceloteh. Dan di sana tantangan terbesarnya.

Sebagian besar kita tidak tahan mendengar cerita atau penjelasan orang lain karena pikiran kita juga ikut bercerita, ikut berasumsi, ikut mengambil peran dalam cerita atau penjelasan orang lain. “Di luar” sudah ribut, “di dalam” juga ribut. Ributnya double. Belum lagi kalau emosi juga terpancing ketika mendengar cerita orang lain. Ributnya triple. Emosi bisa ikut terpancing tidak terlepas dari asumsi yang terbentuk di dalam pikiran ditambah dengan penghakiman.

Pendengar yang baik itu tidak menghakimi. Sangat sederhana bila diketik, namun sungguh tidak bisa dikatakan mudah untuk dilakukan. Sebagian besar waktu kita dalam hidup ini mungkin isinya adalah penghakiman atau penilaian terhadap apapun. Bisa terhadap kelakuan orang lain, kata-kata orang lain, situasi yang dihadapi, harapan, kenangan, bahkan menghakimi diri sendiri: membandingkan diri sendiri dengan orang lain atau membandingkan diri sendiri di saat ini dengan diri di masa lalu atau masa depan. Tidak semua pembandingan itu buruk, tapi ada yang berguna ada yang tidak penting sama sekali.

Itu tantangan utama dan terberat dalam hal berlatih menjadi pendengar yang baik. Lalu, apa pentingnya kita menjadi pendengar yang baik di jaman ini? Dengan mendengarkan, bukan hanya mendengar, kita bisa mendapat jauh lebih banyak ilmu ketimbang kita banyak berbicara. Orang yang tekun mendengarkan relatif akan mudah diterima di berbagai kelompok atau kalangan. Bahkan, mendengarkan dengan penuh perhatian bisa sangat menyembuhkan.

Di zaman ini, begitu banyak orang yang ingin mengaktualisasikan dirinya dengan berbicara dan menceritakan banyak hal. Bahkan, di media-media sosial, tidak sedikit orang yang “mengumbar” kesedihannya juga dengan berbicara atau bercerita. Belum lagi kita mendengar artis yang satu menjelek-jelekkan artis yang lain. Pengikut partai A memojokkan pendukung partai B. Sudah begitu banyak “energi berbicara” yang membuat negeri ini semakin bising dan tidak harmonis.

Perlu orang-orang “penyeimbang” yang berbicara hal-hal yang mendamaikan. Ucapannya diarahkan untuk menentramkan hati banyak orang, bukan malah menambah keributan. Ketika tidak berbicara, justru lebih banyak mendengarkan. Dan ketika mendengarkan, mendengarkan dengan sepenuh hati, sehingga orang yang bercerita keluh kesahnya “menerima energi kedamaian” dan seketika itu merasa lebih lega, bahkan sekalipun tidak ada “solusi dalam bentuk kata-kata”.

Inilah keajaiban mendengarkan sepenuh hati. Ada transfer energi yang melampaui kata-kata. Banyak orang yang sebenarnya hanya ingin bercerita, hanya ingin didengarkan, hanya ingin diterima, tanpa perlu solusi apa-apa dalam bentuk kata-kata. Ketika penerimaan itu hadir dalam ruang mendengarkan, seketika itu juga semua keluh kesahnya kehilangan kemampuan untuk menciptakan penderitaan. Semakin kita ingin memberi solusi untuk orang-orang yang sebenarnya hanya ingin didengarkan, diterima, dan didukung, semakin tidak akan ketemu jalan ke luarnya. Dan kalau kita jeli, seluruh jalan keluar sesungguhnya dimulai dengan jalan ke dalam (diri) melalui mendengar(kan).

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS