page hit counter
Mencari vs Menyadari

Mencari vs Menyadari

Mari kita mulai catatan ini dengan sebuah cerita,

Seorang anak laki-laki bertanya kepada ayahnya, “Ayah, apa tempat paling indah bagi Ayah?”

Ayahnya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya itu, “Ehmmm….Ayah suka rumah ini, karena disini Ayah bisa melihat senyum orang-orang yang Ayah sayang. Ayah suka ruangan keluarga. Ayah suka taman dan kolam ikan di depan rumah kita itu. Ayah suka garasi kita. Intinya, Ayah suka semua sudut di rumah ini.”

Ah Ayah, bukan itu, tempat di luar rumah ini maksudku? Dimana tempat paling indah selain rumah ini?” tanya anaknya lagi.

Ayahnya kembali tersenyum, kemudian menimpali, “Kalau Ayah sudah menemukan tempat terindah itu disini, di rumah ini, kenapa harus mencarinya lagi di luar sana?! Kenapa harus berlelah-lelah mencari tempat yang terindah, kalau rumah ini saja sudah indah bagi Ayah.”

“Di luar sana kan banyak tempat indah, Ayah. Ada pantai, gunung, air terjun, perkebunan, taman bermain, mall, dan banyak lagi,” balas sang anak karena merasa tidak puas dengan jawaban Ayahnya.

“Nak, suatu saat nanti kau akan mengerti. Ini sebenarnya bukan perkara dimana tempat yang paling indah. Ketika hatimu indah, semua tempat yang kau lihat menjadi indah. Apapun bisa menjadi indah selama kita melihatnya melalui mata yang indah. Kita melihat segala sesuatu dengan memaknainya, sehingga apapun yang termaknai indah…akan indah. Dan hati yang penuh syukur, itulah sumber keindahan yang membuat apapun yang kita lihat menjadi indah.”

“Tapi, salahkah bila aku menganggap pantai dan gunung di luar sana itu indah, Ayah?” tanya sang anak.

“Tidak, sama sekali tidak salah. Namun, seiring bertambahnya usia dan kedewasaanmu nanti, kau akan tahu bahwa yang membuat gunung itu indah, pantai itu indah, bukan gunung dan pantainya, tapi pikiran dan hatimu sendiri tentang gunung dan pantai itu. Kebanyakan dari kita memang senang melihat hal-hal yang indah yang ada di luar diri kita, tapi sedikit yang sadar bahwa keindahan yang dilihatnya bersumber dari makna yang dibentuk oleh hati dan pikiran kita sendiri.”

Seperti anak laki-laki itu, saya juga seringkali mengajukan pertanyaan yang senada tentang keindahan, tentang kebahagiaan, tentang cinta, tentang kehidupan. Banyak buku dibaca, pelatihan-pelatihan diikuti, video-video pengembangan diri ditonton, semua jawaban tentang hal-hal tersebut ternyata bermuara di dalam diri saya sendiri. Dan itu artinya saya telah mengambil jalan memutar untuk MENCARI jawaban yang sebenarnya ada di dalam diri saya sendiri.

Kita mencari kesana-kemari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah pergi, hanya tersembunyi di dalam diri kita sendiri. Semakin kita mencarinya di luar diri kita, semakin sulit kita menemukannya. Kenapa? Karena memang tidak ada di luar! Semakin ngotot kita mencarinya di luar, secara tidak sadar, kita sedang membuktikan bahwa keindahan itu memang tidak ada di dalam diri kita. Itu sama halnya dengan: Semakin ngotot berkeinginan, secara tidak sadar, semakin kita menunjukkan bahwa kita sedang tidak memiliki sesuatu yang kita inginkan itu.

Kemudian kita mencari sesuatu yang kita inginkan itu, kita berupaya, kita berupaya keras, berupaya lebih keras lagi…berdoa…berupaya lebih keras lagi…dan pada akhirnya mungkin kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, mungkin juga tidak! Kalau kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita senang, namun hanya sesaat. Why? Karena akan muncul sesuatu yang lebih besar lagi, lebih heboh lagi, lebih berharga lagi yang harus dicari. Kalau pada akhirnya kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita kecewa!

Ini memang sifat alamiah dari keinginan yang “dibahanbakari” oleh rasa kekurangan. Bila kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan, kita senang, namun hanya sesaat. Bila tidak, kita langsung kecewa. Lalu, salahkah bila kita menginginkan sesuatu di luar diri kita? Bukan keinginannya yang menjadi masalah sebenarnya, namun “bahan bakar” dari keinginan tersebut. Keinginan yang “dibahanbakari” oleh rasa kekurangan rentan membuat kita kecewa. Namun, keinginan yang “dibahanbakari” oleh rasa berkecukupan, tenang, dan damai…keinginan tersebut sedang berjabat tangan dengan kebahagiaan.

Kenapa faktor ketenangan menjadi penting ditulis di sini? Apa kaitannya dengan mencari dan menyadari? Ketenangan itu faktor penting dalam proses “mencapai” atau “mencari” apapun yang kita inginkan. Tanpa ketenangan, kita seolah-olah berkejaran dengan keinginan-keinginan kita sendiri..yang tidak pernah ada habisnya..sampai akhirnya kita menjadi lelah sendiri. Menghabiskan waktu untuk “mengejar dan mencari”, sampai-sampai hanya memiliki sedikit waktu untuk menikmati apa yang sudah tersaji dalam kehidupan kita.

Ketenangan mengarahkan fokus kita, yang semula ke luar diri, menjadi ke dalam diri. Yang semula “mencari”, kini menjadi “menyadari”. Menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat berharga di kedalaman diri kita. “Mencari” itu fokusnya ke luar diri, sedangkan “menyadari” itu fokusnya ke dalam diri. Kebanyakan kita senang “mencari” ke luar diri karena “di luar” lebih “terang”, “di dalam” lebih “gelap”. Selain itu, banyak orang yang “belum nyaman” dengan dirinya sendiri, sehingga “masuk ke dalam diri” bukanlah sesuatu yang mengasyikkan.

Yang tidak kalah pentingnya dalam konteks menyadari adalah bersyukur. Bersyukur menjadi pengingat kita untuk berhenti dan meresapi apa yang hadir di kehidupan kita saat ini. Syukur itu adalah salah satu komponen rasa yang penting dalam doa. Kita tidak akan menemukan “syukur” di luar diri kita. Kita melihat pemandangan indah..kemudian bersyukur. Kita mendapat hadiah..kemudian bersyukur. Ada orang yang kita cintai ternyata mencintai kita juga, kemudian kita bersyukur. Apakah “syukurnya” di luar diri kita? Tidak. Pemandangannya, hadiahnya, orangnya di luar diri kita, tapi “rasa syukurnya” tetap di dalam diri kita. Apapun yang tampak di luar diri kita, kalau kita memutuskan untuk bersyukur, kita tetap bisa bersyukur, karena syukur itu di dalam diri kita.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS