page hit counter

Maulid Nabi Setiap Waktu

PERAYAAN maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang dilakukan setiap tahun sekali oleh mayoritas kaum muslimin, pada bulan Rabiul Awwal. Perayaan ini guna mengingat, menghayati dan memuliakan kelahiran Rasulullah. Menurut catatan Sayyid al-Bakri, pelopor pertama kegiatan maulid adalah al-Mudzhaffar Abu Sa’id, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad.

Peringatan maulid pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di suatu tempat. Mereka bersama-sama membaca ayat-ayat Al-Qur’an, membaca sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Rasulullah, melantuntan shalawat dan syair-syair kepada Rasulullah serta diisi pula dengan ceramah agama.

Terlepas dari perdebatan terkait hukum perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, yang jelas agama menganjurkan umat Islam untuk merasa gembira dan senang akan kelahiran Nabi, gembira dan bersuka-cita bahwa beliau diutus guna memberikan kebahagian dunia dan akhirat bagi manusia.

sebagaimana Allah SWT sampaikan dalam surat Yunus ayat 58 : “Katakanlah (Muhammad), “Dengan ‘fadhl’ (karunia) Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” Kata para ulama tafsir, yang dimaksud dengan “fadhlullah” (karunia) Allah ialah Al-Quran. Artinya, hadirnya Al-Quran bisa membuat kita bergembira. Atau kalau kita mau hidup bergembira di dunia jangan jauh-jauh dari Al-Quran.

Sementara makna “rahmati” pada ayat ini, disebut oleh para ulama dengan kehadiran Baginda Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah Islam. Maka kelahiran Nabi Muhammad mestinya disambut gembira, karena beliau membawa risalah yang akan membuat manusia bergembira dunia dan akhirat.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggunakan huruf “ba” pada “bifadhlillahi wa birahmatihi” (karunia Allah dan rahmat-Nya) sebagai petunjuk bahwa hanya dengan dua hal saja yang dapat membahagiakan manusia dan keduanya tidak boleh dipisahkan yaitu karunia Allah dalam hal ini al-Qur’an dan rahmat Allah dalam hal ini diutusnya Nabi Muhammad SAW selaku pembawa risalah Islam.

Sedangkan pengulangan huruf “fa” pada “fabidzaalika falyafrahu” (hendaklah dengan itu mereka bergembira) sebagai syarat dan penegas bahwa hanya dengan karunia dan rahmat Allah manusia dapat berbahagia. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab tafsir al-Munir karangan Prof. Dr. Wahbah Zuhaili.

Bahkan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam bukunya Mafahim Yajibu An-Tushahha menegaskan bahwa sesungguhnya mengadakan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan suatu tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara’ dengan serangkaian pelaksanaannya.

Dalam kitab Fathul Bari karangan al- Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani diceritakan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa tiap hari senin karena dia gembira atas kelahiran Rasulullah. Ini membuktikan bahwa bergembira dengan kelahiran Rasulullah memberikan manfaat yang sangat besar, bahkan orang kafirpun dapat merasakannya. [Ibnu hajar, Fathul Bari, Juz 11, hal 431].

Tradisi yang baik ini harusnya berdampak linier dengan perubahan-perubahan prilaku masyarakat karena perayaan maulid menghadirkan rekaman-rekaman sosok pribadi Nabi Muhammad SAW dalam segala aspek kehidupannya. Namun faktanya, bahwa maulid masih sebatas seremonial saja tanpa diikuti oleh aksi nyata mengambil “ibrah” (pelajaran) yang dijewantahkan dalam kehidupan spritual dan sosial. Masih maraknya korupsi, saling menghujat, ujaran-ujaran kebencian, konflik sosial, intoleransi, kekerasan mengatasnamakan agama dan lain-lain.

Betul, bahwa bergembira dan bersuka-cita dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah mendapat ganjaran disisi Allah SWT, tetapi rasa bahagia saja tidak cukup, namun harus diikuti dengan mengimplementasikan segala ajaran dan sunnah Rasulallah SAW secara menyeluruh dan konsisten, sebagaimana firman Allah dalam surat ali Imran ayat 31 : “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’

Jika bergembira dan cinta kepada Rasulallah SAW maka harus mengikuti sunnah dan ajaran-ajaran beliau karena dengan begitu akan mendapatkan cintai Allah SWT serta ampunan-Nya.

Jangan seperti kaum yahudi, mereka mengaku sebagai anak Tuhan dan orang-orang yang dicintai Tuhan namun ketika disampaikan al-Qur’an mereka menolaknya. Sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Abbas terkait sebab turunnya surat Ali Imran ayat 31: “Ketika orang-orang Yahudi berkata: Kami adalah anak-anak Tuhan dan orang-orang yang dicintai, Allah SWT menurunkan ayat 31 surat ali Imran, dan ketika diturunkan, Rasulullah SAW menyampaikannya kepada orang-orang Yahudi dan mereka menolak untuk menerimanya”.

Secara substansial perayaan maulid Nabi SAW adalah menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW sebagai figur sentral umat Islam yang diaplikasikan dalam kehidupan spritual dan sosialnya, sehingga ia akan menjadi seorang muslim yang sholeh secara vertikal dan sholeh secara horisontal. Oleh sebab itu, Maulid yang dirayakan harus sarat nilai dan makna yang akan berdampak positif untuk pola fikir dan perilaku keseharian.

Jika perayaan maulid Nabi SAW dalam arti dapat menumbuhkan motivasi dan spirit meneladani Rasulallah SAW dalam berbagai aspek kehidupan baik vertikal maupun dan horisontal, maka seorang muslim yang cinta dan rindu akan sosok Nabi Muhammad  SAW, harus mampu menghadirkan setiap waktu spirit dan semangat maulid Nabi SAW.

Sebagai benteng yang tahan dari berbagai serangan, sehingga ia akan “sholeh” ketika di kantor, sawah, rumah, keluarga, jalan raya, menjadi youtuber, bermedia sosial bahkan ketika berpolitik. Karena ia senantiasa akan  meneladani akhlak Rasulallah SAW, yaitu santun, jujur, adil, pemaaf, sabar, dipercaya dan kasih sayang terhadap sesama.

Apalagi tantangan ke depan sungguh berat. Godaan tak hanya korupsi, narkoba, miras dan pergaulan bebas, tapi juga kompetisi materi tak terkendali berikut kesewenangan, kebohongan dan ketidakadilan yang seolah hal biasa bahkan dipoles agar tampak baik. Di sisi lain diperparah hilangnya keteladanan dari orang yang dituakan dan dihormati serta pemegang amanah.

Dengan demikian, perayaan maulid Nabi SAW dapat membawa kepada karunia dan rahmat Allah SWT, mengedepankan prinsip samikna wa atha’an (kami dengar dan kami taat) bukan samikna wa ashoina (kami dengar dan kami tidak mau menurutinya) sebagaimana orang-orang Yahudi bersikap. Maka spirit maulid Nabi SAW harus mampu dihadirkan bukan setiap tahun namun setiap waktu sepanjang tahun, agar kita pantas dirindukan dan diakui sebagai saudara oleh Rasulallah SAW.

Suatu ketika, Nabi SAW berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian Nabi berkata, “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu ingin bertemu dengan saudara-saudaraku.”

Suasana di majelis itu hening sejenak. Terlebih Abu Bakar. Itulah pertama kalinya dia mendengar pengakuan Nabi. “Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” tanya Abu Bakar “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” jawab Rasul. “Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain. Rasulullah menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Nabi bersabda:

Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (Hadis Muslim). Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa’ala wa’ala aali Muhammad. (*)

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS