page hit counter
Masjid Kuno Bayan Beleq, Peninggalan Masa Lalu yang Sarat Makna

Masjid Kuno Bayan Beleq, Peninggalan Masa Lalu yang Sarat Makna

Sasak Heritage – Bangunan masjid kuno Bayan Beleq terletak di desa Bayan, kecamatan Bayan, kabupaten Lombok Barat. Dinamakan demikian sesuai dengan lokasi keberadaannya, yaitu di dusun Bayan Beleq (Beleq (bahasa Sasak) artinya besar). Secara geografis, desa Bayan terletak di ketinggian 278 meter di atas permukaan laut. Lokasi bangunan masjid kuno ini tepat di tepi jalan raya lingkar utara pulau Lombok. Mudah dijangkau dengan berbagai jenis kendaraan. Dari ibu kota Provinsi berjarak 80 km. Bayan adalah kota kecamatan yang terletak di ujung utara pulau Lombok.

Desa Bayan dengan luas wilayah 8700 ha merupakan daerah perbukitan dengan latar kaki gunung Rinjani di sebelah selatan. Alam sekitarnya berupa lahan persawahan, ladang atau tegalan, dan hutan di bagian selatan. Tanah di sekitar wilayah desa pada dasarnya subur, namun karena jangkauan irigasi teknis yang belum merata, sebagian wilayah desa ini pada musim kemarau tampak kering. Kondisi alam yang membelakangi gunung dengan hutan lindungnya, menghadap ke laut lepas, serta didukung adanya sumber air yang relatif memadai merupakan gambaran wilayah yang ideal untuk dikembangkan. Oleh karena itu, Bayan pun berkembang menjadi daerah kantong pemusatan penduduk terbesar di pulau Lombok bagian utara, dan sudah dikenal dunia luar sejak beberapa abad yang lalu.

Masjid Bayan Beleq terletak di atas sebidang tanah dengan topografi yang tidak rata. Bangunan intinya terletak pada bagian permukaan tanah yang paling tinggi. Di dekatnya terdapat beberapa buah makam. Menurut riwayat, yang dimakamkan di tempat tersebut adalah para tokoh penyebar agama Islam di Bayan.

Penjelasan tentang bentuk, luas bangunan, dan yang menjadi ciri khasnya dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Bentuk denah bangunan masjid bujur sangkar (persegi), panjang sisinya 8,90 m. Tiang utamanya (saka guru) ada empat buah, terbuat dari kayu nangka, berbentuk bulat (silinder) dengan garis tengah 23 cm, tinggi 4,60 m. Keempat tiang itu berasal dari empat desa (dusun), antara lain:
  2. Tiang sebelah tenggara dari desa Sajang Sembilok.
  3. Tiang sebelah timur laut dari desa Tereng.
  4. Tiang sebelah barat laut dari desa Senaru.
  5. Tiang sebelah barat daya dari desa Semokon.

Menurut keterangan para pemangku adat, tiang utama ini diperuntukkan bagi para pemangku masjid, yaitu:

  1. Tiang sebelah tenggara untuk Mihrab.
  2. Tiang sebelah timur laut untuk Lebai.
  3. Tiang sebelah barat laut untuk Mangku Bayan Timur.
  4. Tiang sebelah barat daya untuk Penghulu.
  5. Tiang keliling berjumlah 28 buah, termasuk dua buah tiang mihrab. Tinggi tiang keliling rata-rata 1,25 m dan tiang mihrab 80 cm. Tiang-tiang ini selain berfungsi sebagai penahan atap pertama juga berfungsi sebagai tempat menempelkan dinding, dibuat dari bambu yang dibelah dengan cara ditumbuk, disebut “Pagar Rancak”. Khusus dinding bagian mihrab terbuat dari papan kayu suren berjumlah 18 bilah. Perbedaan bahan dinding ini bermakna simbolis bahwa tempat kedudukan imam (pemimpin) tidak sama dengan makmum (pengikut atau rakyat). Berbeda tempat kedudukan, tetapi bersambung tidak terpisahkan.
  6. Atap berbentuk tumpeng, terbuat dari bambu (disebut santek) pada bagian puncaknya terdapat hiasan “mahkota”.
  7. Memperhatikan ukuran denah, tinggi tiang utama dan tinggi tiang keliling, kita dapat membayangkan bentuk bangunan itu. Ukuran tinggi dinding bangunan hanya 125 cm, jauh di bawah ukuran tinggi rata-rata manusia normal. Dengan demikian, setiap orang yang hendak masuk ke dalam bangunan tidak mungkin berjalan dengan langkah tegap, tetapi harus menunduk. Hal ini mengandung makna perlambang.
  8. Pada bagian “blandar” atas terdapat sebuah “jait”, yaitu tempat untuk menaruh hiasan-hiasan, terbuat dari kayu berbentuk ikan dan burung. Ikan ialah binatang air, melambangkan dunia bawah, maksudnya kehidupan duniawi. Burung sebagai hewan yang terbang di udara, melambangkan dunia atas, maksudnya kehidupan di alam sesudah kematian (akhirat). Makna perlambang yang ada di balik itu adalah manusia hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara tujuan hidup di dunia dan di akhirat.
  9. Pada bagian atas mimbar terdapat hiasan berbentuk naga. Pada bagian “badan naga” terdapat hiasan (gambar) tiga buah bintang, masing-masing bersegi 12, 8, dan 7. Hiasan ini melambangkan jumlah bilangan bulan dalam satu tahun, windu, dan banyaknya hari dalam satu minggu. Di samping itu terdapat juga hiasan berbentuk pohon, ayam, telur, dan rusa. Di dalam seni rupa Islam, pada umumnya, hampir tidak pernah ditemukan motif atau ragam hias makhluk hidup yang digambarkan secara jelas. Adanya ragam hias dengan motif makhluk hidup pada mimbar masjid di Bayan Beleq menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tradisi pra-Islam yang masih mewarnainya.

Sumber: Gumi Sasak dalam Sejarah

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS