page hit counter
Lima Sekolah Tampil Dalam Penutupan Gebyar Seni Pelajar 2021 Taman Budaya NTB

Lima Sekolah Tampil Dalam Penutupan Gebyar Seni Pelajar 2021 Taman Budaya NTB

Warta Mataram – Setelah melalui beberapa hari akhirnya tibalah di hari terakhir gelaran Gebyar Seni Pelajar 2021 Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam penutupan event yang berlangsung selama empat hari tersebut, lima sekolah menampilkan karya terbaik mereka antara lain SLBN 2 Mataram, SMAN 1 Woha Kabupaten Bima, SMKN 7 Mataram, SMKN 3 Kota Bima dan SMKN 1 Sikur Lombok Timur.

Penampilan dari SLBN 2 Kota Mataram

Perwakilan dari SLBN 2 Mataram membawakan karya berjudul Pantomim Gagal Berburu dengan sinopsis sebagai berikut. Misa dan Koli adalah dua orang anak yang sangat gemar berburu. Mereka berdua sering berburu burung bangau bersama-sama. Mereka sangat lihai menggunakan alat buruannya, seperti panah, senapan angin dan bahkan ketapel.

Di suatu hari yang cerah, Misa dan Koli tiba-tiba saja ingin melakukan perburuan karena mereka melihat segerombolan burung bangau beterbangan melintas di atas mereka. Dan langsung saja keduannya bergegas mempersiapkan peralatan berburu. Misa memilih berburu dengan busur panah dengan ketapel sebagai senjata cadangan, sedangkan Koli mempersiapkan senapan angin beserta dengan beberapa butir pelurunya. Dan setelah semuanya dipersiapkan keduanya pun langsung bergegas mengikuti arah segerombolan burung-burung tadi.

Peserta ini juga menggambarkan tentang Dedare Sholah yang berarti Gadis cantik. Diceritakan gadis cantik yang selalu riang gembira banyak temannya dan selalu ramah, sopan dan bertutur kata, dan gadis cantik ini pandai menari, dedare sholah ( gadis cantik ) memang mempunyai paras yang cantik sesuai dengan hatinya juga cantiknya.

Penampilan dari SMAN 1 Woha Kabupaten Bima

Sementara itu peserta ketiga berasal dari SMAN 1 Woha Kabupaten Bima. Perwakilan ini membawakan tarian yang berjudul Tulu Bala dengan sinopsis sebagai berikut. Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah dan senang berkumpul Bersama, namun setelah wabah Covid-19 melanda, kebersamaan tersebut diubah menjadi jaga jarak, pesan ibupun ikut berubah. Kita harus mengikuti protocol Kesehatan dan sama-sama berdoa agar wabah covid 19 segera hilang dari bumi pertiwi.

Seiring dengan perkembangan budaya SMAN 1 Woha nenpersembahkan jenis tarian kontemporer kreasi baru yang berjudul Tari Tulu bala.
Tari Turu bala merupakan salah satu jenis tarian khas nusantara yang berasal dari suku Mbojo. Tarian ini merupakan kreasi Garapan baru yang terinspirasi dari ritual yang dilakukan oleh masyarakat suku Mbojo dalam menolak bala dan bencana.

Gerak dan Langkah dalam tarian ini menceritakan prosesi ritual yang diwujudkan dalam bentuk gerak, property tari, iringan music dan kostum. Tarian ini merupakan kolaborasi antara Gerakan ritual tula bala dan keanggunan para putri dari sangaji mbojo (kerajaan Bima), tarian ini bernapaskan kepercayaan kepada roh-roh halus.

Diawali dengan masuknya 2 lelaki yang membawa obor api yang menyala, menggambarkan tentang ketangkasan dan keperkasaan untuk mengawal proses ritual agar roh jahat tidak memasuki Kawasan tersebut dan dilanjutkan dengan Gerakan tarian mpaa sere guna menyambut para tetua dan pribumi yang datang untuk membersihkan diri sebelum proses ritual itu dimulai.

Penampilan dari SMKN 7 Mataram

Peserta berikutnya adalah SMKN 7 Mataram yang membawakan karya berjudul Tegining Teganang. Naskah ini bercerita tentang seorang tokoh yang sangat familiar dalam cerita masyarakat suku sasak. Dia adalah seorang petani yang sangat terpandang di masyarakat. Amaq Teganang namanya, istrinya bernama Inaq Tegining.

Pekerjaannya sebagai pembuat orang-orangan sawah mendapat kehormatan dari warga karena sangat membantu menentukan hasil panen di sawah. Namun, seiring berjalannya waktu, permasalahan mulai muncul. Orang-orangan sawah yang dia buat seperti kehilangan ruh nya, tidak lagi bisa berfungsi mengusir burung-burung. Sebaliknya, orang-orangan sawah itu malah memanggil burung-burung untuk menghabiskan hasil panen.

Penampilan dari SMKN 3 Kota Bima

Peserta Keempat kembali datang dari Pulau Seberang yaitu SMKN 3 Kota Bima yang membawakan sebuah karya berjudul Wadu Ntanda Rahi dengan sinopsis sebagai berikut. Kesetiaan adalah harga diri yang harus dipertahankan dan diperjuangkan. Kesetiaan adalah darah yang mengalir dalam tiap-tiap perempuan Suku Mbojo (Orang Bima). Meski himpitan beban begitu berat mendera juga kemiskinan yang melanda, tetapi kesetiaan dan kesucian adalah perisai yang dimiliki oleh perempuan-perempuan Suku Mbojo.

Sebuah lakon yang diangkat dari sastra lisan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Suku Mbojo. Berkisah tentang pengajaran akan kesetiaan seorang wanita bernama Langgini terhadap Langgusu, yang sekian tahun melaut tanpa kabar berita. Perempuan yang hatinya membatu pada seorang lelaki, yang menjadikan fisiknya ikut membatu. Sungguh sebuah kisah legendaris masyarakat Bima tentang kesetiaan, yang tak lekang oleh zaman.

Penampilan dari SMKN 1 Sikur Kabupaten Lombok Timur

Peserta terakhir Gebyar Seni Pelajar 2021 Taman Budaya NTB yakni dari SMKN 1 Sikur Kabupaten Lombok Timur. Perwakilan ini membawakan karya berjudul Cupak Gerantang dengan sinopsis sebagai berikut. Pada zaman modern ini, nilai budaya kita mulai terkikis oleh budaya luar. Banyak dari masyarakat kita yang hanya memikirkan diri sendiri dan tampak acuh tak acuh dengan keadaan masyarakat di sekitarnya.

Salah satunya Cupak, seorang kakak yang berperawakan tinggi, besar, licik, dan rakus sifatnya. Berbeda jauh dengan sifat adiknya yang bernama Gerantang. Mereka hendak mengikuti sayembara untuk menyelamatkan sang putri raja yang disandera oleh raksasa jahat.

Dengan berakhirnya pertunjukkan dari lima perwakilan sekolah di hari keempat ini, maka berakhir sudah rangkaian gelaran Gebyar Seni Pelajar 2021 Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS