page hit counter

Lebih Dekat dengan Artiska Perwitasari Putri Hutan Indonesia Asal Mataram

Berbagai cara dilakukan untuk mendorong kesadaran masyarakat melestarikan hutan. Salah satunya dengan menghadirkan Putri Hutan Indonesia. Di NTB, Putri Hutan Indonesia berasal dari Kota Mataram. Namanya, Artiska Anggun Perwitasari.

HAMDANI WATHONI, Mataram

Orang biasa memanggilnya Tiska. Perempuan Kelahiran Mei 1991 ini memiliki perawakan yang tinggi. Wajahnya manis. Sekilas ia terlihat seperti model. Lebih dari itu, ia dinobatkan sebagai Juara Favorit Putri Hutan Indonesia 2020 wakil NTB.

“Alhamdulillah, dipercaya sebagai duta yang peduli terhadap lingkungan khususnya hutan,” ujar Tiska ditemui Lombok Post di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB pekan lalu.

Ya, Tiska kini bekerja sebagai staf di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB. Selaras dengan gelar yang disematkan pada alumni SMPN 2 dan SMAN 2 Mataram ini.

Tiska menuturkan, awal mula ia mengikuti ajang Putri Hutan Indonesia. Ia mengaku hanya sekadar ikut tanpa terlalu berambisi juara. Maklum, ia memang dasarnya suka dengan kegiatan modelling dan travelling yang bisa menambah wawasan dan pengetahuan. Tak disangka, ia ternyata dinobatkan jadi juara favorit.

“Ajang Putri Hutan diadakan atas dasar kepedulian terhadap lingkungan. Tugasnya untuk mempromosikan agar masyarakat menjaga lingkungan. Melestarikan flora dan fauna,” ujar dara yang kini tinggal di Jalan Panji Anom Kekalik Mataram tersebut.

Selama menyandang gelar Putri Hutan Indonesia, Tiska senang dirinya bisa bergelut dengan berbagai aktivitas positif. Mulai dari kegiatan penanaman pohon dan pelepasan penyu di TWA Gunung Tunak.

Ia banyak terlibat dalam kegiatan advokasi dan sosialisasi di area yang membutuhkan pohon. Tidak harus di hutan yang terdalam. Justru di lahan kering. Termasuk menanam mangrove.

Tiska menjelaskan jika yang dibutuhkan saat ini adalah sosialisasi dan menyadarkan masyarakat pentingnya menanam pohon dan menjaga lingkungan. Termasuk bagaiamana agar menanam pohon yang tepat.

“Misalnya tidak menanam jagung diperbukitan tetapi menanam pohon. Kemudian bagaiamana reboisasi dan menebang pohon dengan sistem tebang pilih yang memang usianya sudah tua kemudian menggantinya dengan pohon baru,” paparnya.

Alumni Unram ini juga punya keinginan untuk mendorong Wisata Hutan Alternatif. Ia mengatakan selama ini Lombok terkenal dengan pantai, gili, KEK Mandalika hingga Senggigi. Maka harus ada alternatif wisata hutan yang bisa memberikan pilihan ke masyarakat. Misalnya seperti wisata danau biru di Lombok Tengah, ada air terjun dan beberapa potensi lainnya.

“Bisa wisata outbound, rumah pohon dan berbagai destinasi wisata yang bisa dinikmati tetapi tidak merusak hutan. Bangunannya non permanen bisa terbuat dari kayu dan bambu,” harapnya.

Di beberapa daerah, wisata hutan sudah mulai dikembangkan. Misalnya dengan membuat penginapan rumah pohon dengan nuansa alam yang indah di pinggir sungai dan yang lainnya. Ini diyakini bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang datang berlibur ke Lombok.

 

Millenial Multi Talenta

Tiska, sapaannya adalah gadis multitalenta. Tak hanya cantik dan anggun, perempuan ini juga punya sederet prestasi membanggakan. Yang tak kalah penting ia peduli terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.

“Alhamdulillah selain pernah jadi juara favorit Putri Hutan Indonesia, pernah juga jadi Putri Kopi Indonesia,” ujar Tiska kepada Lombok Post.

Ia mengikuti ajang Putri Kopi karena mengaku senang juga dengan beberapa jenis minuman kopi. Misalnya kopi robusta, toraja, hingga arabika.

Tiska mengaku suka jenis kopi yang dihasilkan beberapa daerah di Indonesia. Mulai dari kopi asal Aceh hingga kopi yang dihasilkan di Pulau Sumbawa, yakni Kopi Tambora pernah dinikmatinya.

“Sekarang mulai dikembangkan juga Kopi Sembalun dan sudah mulai dikenal,” cetusnya.

Tiska menuturkan, jika event Putri Kopi Indonesia yang pernah diikutinya dilkasanakan di Grand Mulya Jakarta tahun 2011 silam. Indonesia disebutnya sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia.

Saat mengikuti event tersebut, ia akhirnya mengenal dan merasakan berbagai cita rasa kopi dari sejumlah daerah yang ada di Nusantara. “Semakin tinggi dataran tempat kopi ditanam, semakin nikmat rasanya,”akunya.

Kopi seolah menjadi minuman yang disukai semua kalangan. Ini menjadi salah satu dari hasil hutan bukan kayu yang menurutnya bisa diambil manfaatnya oleh masyarakat.

Alam memberikan banyak kebutuhan masyarakat sehingga sudah selayaknya, menurut Tiska, semua pihak bertanggung jawab menjaga alam itu sendiri. Khususnya warga yang tinggal di sekitar hutan.

“Tentu juga pemerintah mengambil peran penting menjaga hutan dengan membuat kebijakan yang mendukung keberlangsungan hutan,” pintanya.

Selain kopi, Tiska mengatakan ada beberapa hasil hutan lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Yakni madu, bambu, aren, rotan, kemiri, porang, durian, alpukat hingga berbagai hasil hutan bukan kayu lainnya. Belum lagi hutan dengan pohon di dalamnya bisa menyerap air hujan dan mengembalikannya ke manusia dalam bentuk sumber mata air. Mata air ini tidak hanya dinikmati masyarakat di sekitar kawasan hutan bahkan dialirkan sampai ke perkotaan.

“Air minum segar dan bersih yang dinikmati masyarakat Kota Mataram saat ini juga tidak lepas dari peran hutan,” ungkapnya.

Untuk itu, alumni Unram ini mengajak semua pihak menjaga dan melestarikan hutan. Karena bagaimanapun hutan dan alam sudah memberikan terlalu banyak kemanfaatan bagi masyarakat dan manusia umumnya. (*/r3)

 

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS