page hit counter
Korona Melonjak, ICU di Mataram dan Lombok Barat Kritis

Korona Melonjak, ICU di Mataram dan Lombok Barat Kritis

MATARAM-NTB harus waspada. Meski kasus Covid-19 di NTB disebut dalam keadaan terkendali, tapi kasus harian masih terus melonjak. Sementara Tingkat keterisian tempat tidur ICU di seluruh rumah sakit di Mataram dan Lombok Barat kini dalam kondisi kritis karena Nyaris penuh. Di sisi lain, delapan kabupaten/kota memiliki angka kematian atau case fatality rate di atas rata-rata nasional.

“Kondisi NTB masih aman. Tapi dalam arti, kini kita berada pada titik waspada,” kata Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah saat menjadi pembicara kunci dalam dialog interaktif secara virtual yang digelar ESPE Syndycate, kemarin sore (29/7).

Dalam diskusi mingguan yang diikuti para tokoh lintas agama, akademisi, tenaga medis, dan para pemangku kepentingan dari beragam profesi tersebut, orang nomor dua di NTB ini menjelaskan kondisi Covid-19 di Bumi Gora.

Wagub menjelaskan, keterisian tempat tidur ruang perawatan intensif pasien Covid-19 di seluruh rumah sakit di Kota Mataram kini sudah mencapai 81 persen. Sementara kondisi lebih buruk lagi ada di Lombok Barat. Seluruh rumah sakit di Lobar ruang ICU pasien Covid-19 kini sudah terisi 90 persen.

Dua daerah ini kata Wagub menjadi daerah dengan kondisi paling kritis di NTB. Sebab, sudah berada di atas ra-rata nasional yang hingga kemarin masih mencapai 72,2 persen. Tempat ICU yang penuh akan menyulitkan perawatan pasien yang kondisinya memburuk dan memerlukan perawatan intensif.

Secara keseluruhan kata Wagub, untuk ruang ICU khusus Pasien Covid-19 di NTB masih berada pada posisi 64,3 persen. Ada lima daerah yang berada di zona hijau dengan tingkat keterisian di bawah 50 persen. Bahkan, di Sumbawa Barat, Lombok Utara, dan Kota Bima, tidak memiliki pasien Covid-19 yang dirawat di ruang ICU.

Sementara untuk angka kematian, delapan daerah berada pada zona merah. Kondisi paling buruk ada di Lombok Tengah. Dengan angka kematian 5,3 persen dari seluruh penderita Covid-19 di daerah tersebut. Secara rata-rata untuk NTB, angka kematian berapada pada posisi 3,5 persen. Jauh di atas angka kematian secara nasional yang berada pada posisi 2,6 persen. Hanya dua daerah di NTB yang berada pada zona hijau untuk tingkat kematian ini. Dua daerah tersebut adalah Lombok Timur dan Sumbawa Barat. (Selengkapnya lihat grafis).

Wagub menjelaskan, di tengah kondisi seperti ini, NTB sedang tidak punya pilihan. NTB harus memutuskan untuk hidup aman tapi tetap produktif. Karena itu, mutlak bagi seluruh masyarakat di NTB untuk hidup dengan mengedepankan protokol kesehtan.

“Tidak ada pilihan lain. Kalau kita tidak menjalankan prokes, kita kolaps. Kita tidak bisa memilih,” tandas Wagub.

Memang kata dia, kondisi Covid-19 di saat NTB terkendali. Namun harus diakui, akhir-akhir ini jumlah kasus memang terus melonjak. Kemarin, kasus harian di NTB kembali di atas 200 orang. Tepatnya 248 orang di NTB yang terinfeksi Covid-19. Angka ini sudah mendekati rekor-rekor sebelumnya yang mencapai 271 kasus dalam sehari.

Di sisi lain kata Wagub, angka ksembuhan di NTB juga terus menurun. Jika sebelumya angka kesembuhan di NTB berada di atas 90 persen. Maka kini kondisinya angka kesembuhan berada pada posisi 85,6 persen. Hanya Kabupaten Bima yang memiliki angka kesembuhan di bawah 50 persen di NTB. Sementara selebihnya di setiap daerah angka kesembuhannya berada di atas rata-rata nasional yang mencapai 78,9 persen.

 

Lonjakan Selepas Idul Adha

Wagub menjelaskan, lonjakan kasus di NTB mengalami kenaikan yang sangat tinggi setelah perayaan Hari Raya Idul Adha. Padahal saat bersamaan, Kota Mataram sedang menjalani PPKM Darurat. Sementara kabupaten/kota yang lain di NTB menjalani PPKM Mikro.

Belakangan kata Wagub, kondisi kian menkhawatirkan. Sebab, kebutuhan oksigen yang terus naik. Sementara pasokan juga memerlukan waktu untuk memenuhi seluruh permintaan. Kabar gembiranya, kemarin, NTB sudah mendapat bantuan 19 ton oksigen.

Di tegaskannya, penanganan Covid-19 ini akan terlalu berat jika diserahkan sepenuhnya pada pemerintah sendiri. Karena itu, Wagub menegaskan, seluruh komponen di NTB butuh kerja sama.

“Kita harus gotong royong. Gotong royong tegakkan prokes di seluruh lini kehidupan. Sepele. Tapi banyak orang yang anggap enteng,” tandasnya.

Mengandalkan penanganan pandemi Covid-19 hanya dari sisi kuratif belaka, sudah pasti kata Wagub tak akan mampu mengatasi persoalan. Sebab, seluruh sumber daya yang dimiliki pemerintah pasti ada batasnya. Dia mencontohkan. Untuk menyiapkan satu orang tenag akesehatan saja butuh puluhan tahun. Sebab, mereka harus menempuh pendidikan berbagai jenjang terlebih dahulu. Pun demikian dengan berbagai kebutuhan lainnya.

“Saat ini saja untuk oksigen. Kita mau bayar. Tapi barangnya nggak ada,” katanya.

Karena itu, pilihan terbaik yang dimiliki NTB saat ini adalah mengedepankan tindakan preventif. NTB punya peluang besar dalam hal tindakan preventif ini. Kuncinya kata Wagub, asal kita semua mau menjalankannya.

“Sudah tidak ada execuse lagi. Apalagi setelah masuknya varian Delta di NTB yang sangat menular. Semua wajib pakai masker. Jangan lepas masker. Nggak ada tawar menawar lagi,” tandasnya.

Itu sebabnya, dia menegaskan pentingnya peran masyarakat yang sangat besar. Dan inilah yang kini menjadi PR besar. Bagaimana meyakinkan masyarakat agar bersatu sehingga dalam seluruh aktivitas yang dijalani, bisa semuanya mematuhi protkol kesehatan.

“Kita hidup dengan virus,” tandasnya.

Diakuinya, selama ini, masih ada fokus yang terbelah pada hal-hal yang tidak esensial. Karena itu, saatnya kini fokus dikembalikan pada upaya-upaya untuk memastikan masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Mereka yang abai harus sadar sepenuhnya, bahwa mereka bisa menjadi pembunuh bagi orang lain.

“Masa kita tega menyakiti orang lain yang lalu kemudian terbunuh,” tandasnya.

Ditekankannya, upaya pemerintah sebetulnya nggak kurang-kurang. Yang kurang saat ini di NTB hanyalah kegotong royongan untuk menegakkan protokol kesehatan. Namun begitu, Wagub mengingatkan agar jangan lagi ada saling menyalahkan.

“Dari pada saling menyalahkan, mengapa kita tidak disiplin bersama-sama menegakkan protokol kesehatan,” katanya.(JPG)

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS