page hit counter
Konservasi Penyu di Pantai Mapak Kota Mataram Sebagai Wahana Wisata Edukasi

Konservasi Penyu di Pantai Mapak Kota Mataram Sebagai Wahana Wisata Edukasi

Berita Mataram – Sebagai Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram ternyata tidak hanya menjadi pusat episentrum kegiatan ekonomi dan administrasi pemerintahan semata. Dengan sejarah sebagai salah satu kota pelabuhan yang maju, Kota Mataram juga memiliki potensi pengembangan konservasi penyu sebagai salah satu bentuk kontribusi menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Contohnya di Pantai Mapak yang merupakan salah satu tempat penangkaran penyu di Provinsi NTB. Menurut sumber Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, dari ratusan jenis dan ragam penyu yang ada di dunia, sekitar 5 jenisnya ada di NTB.

“ini yang harus terus kita lindungi, karena keberadaan penyu dengan proses kembangbiaknya diperairan laut kita, ini mengindikasikan kegiatan konservasi perairan kita terukur dari itu,” jelasnya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, H. Yusron Hadi, ketika mendampingi Gubernur NTB melepas penyu yang dirangkaikan dengan kegiatan bersih pantai bersama UMKM Pariwisata, Minggu (7/3/2021), di tempat pelestarian penyu Pantai Mapak Indah Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram.

Diacara yang sama, Praktisi Konservasi Penyu Universitas Udayana, Windia Adyiana, menjelaskan bahwa Penyu Mapak merupakan jenis penyu lekang. Jenis ini tersebar luas di Indonesia. Namun tidak begitu banyak.

“Hanya jumlahnya sedikit dihabitatnya masing-masing,” kata Windia Adyiana.

Lebih jauh Windia menjelaskan, dari hasil konservasi penyu pada tahun 2020 yang lalu, ditemukan terdapat 160 jumlah sarang dengan jumlah penyu sebanyak 40 sampai 50 ekor, dengan perkiraan seekor penyu dapat bertelur sekitar 100-150 butir sekali bertelur.

Terdapat beberapa jenis di perairan NTB, diantara ada penyu lekang, pipih dan hijau. Namun dibeberapa tempat ditemukan juga penyu jenis lain namun sangat sedikit.

“Hanya 3 jenis penyu ini yang populasinya agak banyak dibanding yang lain,” terangnya.

Sementara itu, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Sc., mengungkapkan bahwa keberhasilan konservasi penyu dan perkembangbiakannya menandakan terjaganya danbterawatnya kelestarian lingkungan disekitar habitat.

“Dengan beranak pinangnya anak penyu bisa menjadi sinyal, berhasil atau tidak kita menjaga dan merawat kelestarian alam ini,” kata Gubernur.

Ia juga meminta kegiatan seperti ini bisa dikemas menjadi wahana wisata edukasi, terutama kepada anak-anak, untuk bisa belajar menjaga dan merawat lingkungan hidup disekitar.

“Karena merekalah generasi penerus yang akan melestarikan alam ini,” harap Doktor Zul sapaan akrab Gubernur.

Selain itu, Gubernur juga menghimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Karena dapat merusak ekosistem laut, sehingga mempengaruhi kelestarian penyu. Baru-baru ini ada laporan masyarakat bahwa ada penyu mati karena memakan masker.

“Jangan membuang masker sembarangan, karena implikasinya juga binatang-binatang laut lainnya menjadi korban,”tutup Gubernur.

Kegiatan gotong royong dan pelepasan penyu ini juga diikuti kelompok masyarakat pengawas penyu, kelompok pariwisata Mataram Kopdarwis, kelompok pengawas pesisir laut dan masyarakat pengunjung pantai Mapak. (abdt)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS