page hit counter
Kisah Dua Pemuda Dibalik Sejarah Berdirinya Masjid Kuno Rembitan

Kisah Dua Pemuda Dibalik Sejarah Berdirinya Masjid Kuno Rembitan

Sasak Heritage – Bangunan masjid kuno Rembitan terletak di desa Rembitan, kecamatan Pujut, kabupaten Lombok Tengah. Bangunannya terletak di tengah-tengah perkampungan penduduk. Masjid kuno ini, kendati terletak di perbukitan, tetapi masih ada bangunan berupa rumah-rumah penduduk pada bagian yang lebih tinggi. Bangunan masjid kuno Rembitan berukuran 7,80 meter x 7,60 meter. Di sebelahnya terdapat sebuah kolam, dalamnya 2,5 meter dengan garis tengah bagian atas 5 meter dan bagian bawah (dasar) 3 meter.

Bangunan masjid tersebut nyaris tidak memiliki halaman. Pondasi atau lantai bangunan tersebut dari tanah. Secara fisik, baik prototipe maupun bahan dasar masjid sama dengan masjid kuno yang ada di Gunung Pujut. Hal yang sangat tergolong khas adalah tali-temalinya menggunakan bahan ijuk dan tali saot, yaitu sejenis akar gantung pada tumbuhan hutan. Tali pengikat atap (alang-alang) menggunakan “male”. Bila penduduk melakukan renovasi, jenis bahan maupun jumlah bilangannya, masih tetap dipertahankan karena berkaitan dengan sistem kepercayaan mereka. Di sebelah timur masjid terdapat sebuah bedug besar dari kulit kerbau.

Masjid kuno Rembitan menunjukkan beberapa ciri-ciri, sehingga memberikan gambaran tentang kekunoannya, antara lain:

  1. Mihrab pada dinding barat tidak menunjukkan arah kiblat yang tepat. Hal demikian terdapat pada masjid-masjid kuno di berbagai tempat di Indonesia.
  2. Bentuk atap tumpang, dengan ciri khas bagian bawah menjurai kira-kira 1 meter dari pondasi (bantaran).
  3. Hanya ada bagian inti tanpa serambi, yang didukung oleh empat buah tiang utama dan beberapa tiang keliling.
  4. Atap dari alang dan ijuk, dindingnya dari bambu (bedeg).

Adanya persamaan bentuk dengan masjid yang lainnya di Pujut menunjukkan bahwa masjid tersebut dibangun pada masa yang bersamaan. Cerita tradisi yang masih hidup di kalangan penduduk desa Rembitan dan sekitarnya mengatakan bahwa masjid ini dibangun pada sekitar abad ke-16 M. Bangunan masjid kuno tersebut sering dikaitkan dengan nama seorang tokoh penyebar agama Islam, yaitu Wali Nyatok, yang makamnya terdapat di bukit Nyatok, kira-kira 2 km di sebelah timur desa Rembitan.

Makam Wali Nyatok tercatat salah satu kuburan yang paling ramai dikunjungi umat Islam di Lombok. Dibuka sekali dalam sepekan, pada hari Rabu, sesuai dengan wasiatnya kepada para pengikutnya. Nyatok kadang diartikan “nyata”, tetapi bisa juga berarti “satu” atau “nyatu” atau wahdat: mengingatkan pada gelar yang disandang oleh Sunan Bonang, salah satu Wali Songo, yang dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.

Mendiang TGH Najmudin Makmun, ulama Lombok kenamaan, menyebutkan kedatangan dua pemuda dari Jawa pada abad 15 Masehi ke Lombok dalam rangka menyebarkan Islam, yakni Raden Dateng dan Raden Farnas. Keduanya diasuh oleh suami-istri bernama amak dan inak Buthuh. Raden Dateng kemudian dikenal sebagai Wali Nyatok.

Para sejarawan Sasak mengkaitkan kedatangan dua wali dari Jawa tersebut dengan sosok Sunan Giri Prapen, Gresik, yang disebut sebagi tokoh tunggal penting penyebar Islam di pulau Lombok dan Indonesia Timur lainnya. Padahal tidak sedikit bukti lain mengenai kehadiran Sunan Kalijaga, Maulana Magribi, Syekh Siti Jenar, dan Wali Jawa lainnya dalam menopang Islam tradisional di Lombok.  Artinya, Islam di Lombok berjejaring secara genetik dengan Islam di Jawa dan kawasan lainnya di Nusantara.

Sayangnya, belakangan situs-situs penting Islam di Lombok mengalami Arabisasi, seperti pada kasus Wali Nyatok yang diganti dengan nama Ghaust Abdurrozak yang diyakini datang langsung dari negeri Bagdad, Irak. Masyarakat Rembitan meyakini masjid mereka dulunya adalah masjid milik Wali Nyatok untuk beribadah, olah ruhani (khalwat), dan tempat mendaras ajaran Islam. Oleh karenanya, sampai hari ini masjid Rembitan dipakai oleh masyarkat sekitar tetap digunakan melaksanakan ibadah salat lima waktu untuk merawat kesinambungan posisi, fungsi dan maknanya dengan masa lalu.

Tidak seperti masjid tiga masjid kuno lainnya yang hanya digunakan untuk ritual keagamaan pada saat bulan mulud tiba. Hubungan masjid Rembitan dengan Wali Nyatok sekaligus menepis fabrikasi para orientalis dan kalaboratornya soal sinkretisme dalam jagad Islam tradisional.

Masjid Gunung Pujut dan Masjid Beleq Bayan dikaitan dengan praktek Islam minimalis, tidak sempurna, yakni “Islam Wetu Telu”, sehingga melahirkan rongga kesenjangan dengan kalangan Islam umunnya di Lombok. Terciptalah dikotomi “Islam Wetu Telu” berhadapan dengan “Islam Wetu Lima”. Di mana yang Wetu Telu secara salah kaprah dianggap sebagai bentuk Islam kurang sempurna yang harus disempurnakan oleh kalangan “Islam Wetu Lima”.

Sumber: Gumi Sasak dalam Sejarah dan https://alif.id

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS