page hit counter
Jumlah Kasus Corona Makin Meningkat, Gubernur NTB Tawarkan PSBB

Jumlah Kasus Corona Makin Meningkat, Gubernur NTB Tawarkan PSBB

Berita Mataram – Jumlah kasus corona di Provinsi Nusa Tenggara Barat makin melonjak, hingga saat ini Provinsi NTB sendiri berada di urutan ke tujuh dalam daftar kasus positif corona terbanyak di Indonesia dengan jumlah 268 pasien positif Covid-19.

Dari 268 kasus positif corona di NTB, Kota Mataram adalah wilayah paling terdampak dengan jumlah pasien positif sejumlah 86 orang, kemudian diikuti oleh Kabupaten Lombok Barat sejumlah 39 orang. Jumlah ini berpotensi akan terus bertambah mengingat saat ini di NTB sedang mengalami kelangkaan reagen, salah satu alat yang dibutuhkan untuk uji Swab sampel corona.

Dengan adanya lonjakan di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah menawarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kepada dua wilayah tersebut. Penerapan PSBB ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9/2020 tentang pedoman PSBB dalam rangka percepatan penanganan Covid-19.

“Kami tawarkan kepada Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat untuk menerapkan PSBB. Kalau memang kita sepakati, mari kita terapkan,” kata Bang Zul, sapaan akrab Gubernur NTB saat menggelar rapat terbatas di ruang rapat utama Kantor Gubernur NTB.

Menanggapi hal tersebut, Walikota Mataram H. Ahyar Abduh mengatakan bahwa saat ini Kota Mataram telah menjalan program penanganan Covid-19 berbasis lingkungan, mulai dari pemberlakuan jam malam hingga melakukan pengawasan terhadap orang yang keluar masuk Kota Mataram, sehingga tawaran PSBB tersebut akan dikaji lebih dalam lagi.

Sementara itu Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Halid, S.Ag, M.Si melihat tawaran PSBB ini dari dampak yang akan diterima oleh masyarakat. Menurutnya, sebelum memutuskan PSBB, pemerintah harus memikirkan soal ketersediaan ekonomi, karena jangan sampai saat penerapannya akan terjadi perlawanan dari masyarakat.

Sementara itu di tempat yang sama, Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah selaku Ketua Satgas Covid-19 NTB menawarkan Pembatasan Waktu Masyarakat Bersosialisasi (PWMB). Beliau mencotohkan pembatasan waktu ini seperti contoh dari pukul 06.00 WITA, masyarakat dapat bersosialisasi, bepergian mencari bahan penopang hidup dan kepentingan yang sangat mendesak, kemudian dari pukul 16.00 sd 20.00 masyarakat yang boleh bersosialisasi berada di luar rumah dibatasi, utamanya yang berumur 20 tahun sampai dengan 50 tahun, kesemuanya harus menerapkan standar protokol pencegahan penyebaran Covid-19.

PSBB sendiri merupakan kebijakan dari Kementerian Kesehatan dengan memperhatikan empat kondisi, antara lain pertama, peningkatan jumlah kasus menurut waktu. Kedua, penyebaran kasus menurut waktu. Ketiga, kejadian transmisi lokal. Keempat, kesiapan daerah tentang aspek ketersediaan kebutuhan hidup dasar rakyat, sarana prasarana kesehatan, anggaran dan operasionalisasi jaring pengaman sosial da aspek keamanan.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS