page hit counter

Jelang WSBK, Koordinasi Masih Minim

MATARAM-Jadwal balapan WSBK di Sirkuit Mandalika diundur sepekan. Namun, persiapan dari pelaku industri pariwisata tetap dikebut. Tak terkecuali oleh para pengusaha hotel yang tergabung dalam Senggigi Hotel Association (SHA), misalnya.

Total 2.000 kamar hotel di kawasan ini siap menjadi lokasi inap wisatawan. Jumlah ini sudah terakumulasi bersama seluruh anggota yang sempat tutup sementara beberapa bulan belakang akibat pandemi. ”Masing-masing hotel di kabupaten punya database sendiri, khusus di Senggigi, Lombok Barat tersedia 2.000 kamar,” papar I Ketut Murta Jaya, ketua SHA,  (27/9).

Saat ini pun aktivitas bisnis di kawasan tersebut mulai membaik. Mereka yang tutup, mulai kembali memberlakukan semi-operasional terutama akhir pekan. Dibuka sesuai kebutuhan tamu. Dia juga memastikan 100 persen anggotanya sudah mengantongi CHSE dengan karyawan tervaksin. Pekerjaan rumahnya tinggal memastikan kesiapan produk secara maksimal. Produk yang dimaksud, adalah ketersediaan kamar, makanan dan minuman, fasilitas seperti bar, gym, spa dan lainnya. Selanjutnya adalah pelayanan oleh karyawan dan sejenisnya.

”Secara umum kita siap, tinggal mematangkan dua produk itu tadi,” katanya.

Sisi tenaga kerja pun tambahnya, akan otomatis diserap kembali. Semakin tinggi tingkat huniannya, maka lebih cepat pemulihan aktivitas perhotelan seperti semula. Termasuk kesanggupan pihaknya membayar upah para pekerja. ”Yang sempat dikurangi jadwalnya akan dimaksimalkan kembali jadwal kerjanya,” jelas pria yang juga menjabat ketua Association of Hospitality Leaders Indonesia (AHLI) NTB ini.

Tak mau ketinggalan, kalangan anggota pramuwisata yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) juga berbenah. Salah satu persiapannya adalah peningkatan kapasitas dan kemampuan mereka memandu calon tamu nantinya. ”Upgrading dan upskilling oleh kementerian demi memberikan pelayanan prima,” ungkap Ainuddin, ketua HPI NTB, kemarin (27/9).

Namun sejauh ini, ia menilai persiapan masih dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing pelaku industri. Belum ada koordinasi duduk bersama antara Dinas Pariwisata tingkat kabupaten/kota hingga provinsi yang melibatkan para pelaku pramuwisata.

Padahal kata dia, pramuwisata juga memiliki peran sebagai garda terdepan yang berhadapan langsung dengan wisatawan. ”Jangan sampai lalai, yang disiapkan hanya itu-itu saja. Sedangkan sisanya tak dilibatkan dalam persiapan apa pun,” sindirnya.

Dikhawatirkan kelalaian ini akan berakibat fatal. Sebab pemahaman terkait kepariwisataan harus secara komprehensif dipahami seluruh sektor industri pariwisata, khususnya pelaku usaha itu sendiri. Sehingga peran pemerintah provinsi lah yang menyatukan seluruh elemen untuk memaksimalkan hajat besar ini.

”Kalau begini terus, takutnya pemprov tak bisa bimbing koordinasi kita semua,” katanya.

Anggota HPI berlisensi tercatat berjumlah 1.700 orang. Sejak pandemi, beberapa dari mereka mulai menggeluti bidang usaha maupun pekerjaan lain. Sehingga anggota aktif saat ini diperkirakan 850-900 orang. Mereka inilah nantinya yang akan memandu para tamu selama perhelatan WSBK. Kendalanya, pihaknya belum mengetahui secara persis seperti apa pembagian tanggung jawab teknis masing-masing industri. Apakah mereka berjalan secara individu atau menggandeng travel agen. Apakah ada yang mempekerjakan dengan pihak yang sudah terkoneksi dengan akomodasi atau belum.

”Itu kita belum tahu pembagiannya bagaimana, dan harus dijelaskan,” imbuhnya. (eka/r9)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS