page hit counter
Isolasi Mandiri, Dua Pasien Covid-19 di Mataram Meninggal

Isolasi Mandiri, Dua Pasien Covid-19 di Mataram Meninggal

MATARAM-Dua orang warga di Kota Mataram meninggal dunia saat isolasi mandiri di rumah Jumat dan Sabtu lalu. Mereka ditemukan keluarganya sudah dalam kondisi tak bernyawa. Dari hasil swab PCR, keduanya dinyatakan positif Covid-19.

“Ada warga yang ditemukan meninggal dunia di Taman Kapitan Kelurahan Taman Sari kemarin malam (Jumat malam). Warga tersebut sedang isolasi mandiri dan tidak mau diketahui warga setempat sehingga mengasingkan diri,” ungkap Camat Ampenan Muzakkir Walad kepada Lombok Post, kemarin (25/7)

AR (inisal, Red) warga kelahiran 19 Agustus 1984 tersebut diketahui berasal dari Kelurahan Gomong. Karena masih bujang ia tinggal sendirian di Taman Kapitan mengasingkan diri setelah mengalami gejala batuk dan demam. Pihak keluarga disinyalir masih sempat komunikasi hingga pukul 12.00 siang.

Namun selepas isya sampai pukul 12.00 malam, komunikasi dengan keluarganya terputus, sehingga orang tua dan keluarganya mendatanginya di Taman Kapitan. NR ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia. “Tidak ada penanganan ke warga tersebut karena dia memang tidak dalam pantauan kami,” ungkap Camat.

AR diduga sengaja tidak mau diketahui kondisinya apalagi diketahui positif Covid-19. Sehingga ia memilih isolasi mandiri jauh dari keluarga. “Ini yang kami sayangkan. Warga jangan malu dan takut menceritakan gejalanya agar bisa ditangani lebih cepat. Tujuannya justru agar bisa mendapatkan penanganan lebih terpantau,” terang Camat.

Pemahaman masyarakat Kota Mataram tentang Covid-19 masih banyak yang keliru. Banyak warga yang mengangggap Covid-19 sebagai aib. Mereka enggan diketahui dan mengakui jika dirinya terpapar Covid-19. Padahal justru itu risikonya lebih berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa. Tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga keluarganya.

“Makanya kami di beberapa kelurahan telah membuat rumah isolasi terpadu. Kami sengaja desain untuk tempat isolasi bagi warga yang tak mau diisolasi di rumah sakit,” terang Muzakkir.

Di rumah isolasi terpadu ini, Pemerintah Kecamatan Ampenan bersama Puskesmas, Koramil dan Polsek akan memantau aktivitas warga yang tengah melakukan isolasi. Mulai dari ketersediaan makanan, obat-obatan penunjang kesembuhan hingga oksigen. “Jadi warga lebih terkoordinir dan lebih nyaman isolasi seperti di rumah dan mandiri,” paparnya.

Namun tidak semua warga bisa ditempatkan di rumah isolasi terpadu. Minimal di bawah usia 45 tahun dan tidak memiliki penyakit penyerta seperiti jantung, diabetes, hipertensi atau penyakit paru kronis. Karena bagi yang memiliki komorbid memang membutuhkan penanganan komperhensif di rumah sakit.

Rumah isolasi terpadu yang sudah disediakan diantaranya di Kelurahan Banjar, Kelurahan Taman Sari, Kelurahan Pejeruk dan Kelurahan Bintaro. Rumah Isolasi terpadu ini adalah rumah warga yang bersedia dijadikan tempat isolasi.

“Ada kamar terpisah bagi penghuninya dan disiapkan kamar mandir. Nanti kami bisa lebih intens mengkoordinir dan memantau. Ini yang dimaksud pak Wali mengaktifkan kembali pola PCBL seperti yang dulu pernah dilakukan Kota Mataram,” ungkapnya.

Pihak RSUD Kota Mataram yang dikonfirmasi Lombok Post membenarkan warga atas nama AR yang ditemukan meninggal dunia saat isolasi di Taman Kapitan. Pemulasaraan jenazahnya dilakukan di IPJ RSUD Kota Mataram Sabtu (24/7) lalu dan dimakamkan di TPU Karang Medain.

“Ada dua warga yang meninggal terkonfirmasi positif Covid-19 pemulasaraannya di IPJ RSUD Kota Mataram. Mereka ditemukan meninggal dunia saat sedang isolasi mandiri ,” terang Humas RSUD Kota Mataram Dewi Sayu Veronika kepada Lombok Post, kemarin (25/7).

AR ditemukan dalam kondisi meninggal di Taman Kapitan. Kemudian dilakukan swab di Puskesmas Tanjung Karang ia terkonfirmasi positif.

Selain AR, ada juga NU, warga usia 75 tahun asal Jempong Baru. Ia ditemukan meninggal dunia di wilayah Sayang-sayang oleh anaknya saat sedang isolasi mandiri di rumah. Ia sebelumnya memang pernah melakukan swab di RSUD Kota Mataram dan dinyatakan positif Covid-19. Namun ia memilih untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

Dengan kejadian ini, warga diimbau untuk tidak memandang remeh kasus positif Covid-19. Bagi warga yang terkonfrimasi positif Covid-19 atau memiliki gejala namun memilih isolasi mandiri di rumah, mereka bisa tetap mendapatkan pendampingan. Caranya bisa memanfaatkan layanan telekonsultasi melalui telepon atau WhatsApp yang disiapkan oleh RSUD Kota Mataram. Bisa dengan menghubungi 119 atau menghubungi nomor 085931061540. (ton/r3)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS