page hit counter

Ini Alasan Inaq Suhelin Gugat Ayahnya di PN Selong

SELONG-Inaq Suhelin menggugat ayah kandungnya Amaq Yoni ke Pengadilan Negeri Selong. Gugatan perdata itu berkaitan dengan masalah tanah sawah seluas 20 are dan tanah kebun seluas 51 are di Oron Sedin Lokok, Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Dalam gugatan itu, Inaq Suhelin menyertakan bapaknya sebagai tergugat 1. Sementara, tergugat 2 dan 3 masing-masing H Mahrup alias H Kenis dan H Nil alias Sakri. Sedangkan turut tergugat, Kepala Desa Sembalun Sunardi.

’’Inaq Suhelin tidak menggugat bapaknya. Yang sebenarnya adalah Inaq Suhelin menggugat H Mahrup dan H Nil serta Sunardi,’’ kata Suhaelin, anak dari penggugat Inaq Suhelin.

Dia menyayangkan media melabeli ibunya sebagai anak durhaka karena gugatan tersebut. Suhaelin menjelaskan penggugat terpaksa mengikutkan kakeknya sebagai tergugat 1 agar terpenuhi sistem dalam gugatan. ’’Jadi, kakek saya dimasukan agar gugatan tidak kabur (abscuure libel),’’ sebutnya.

Dia berharap publik tidak lagi menghakimi ibunya dengan anak durhaka. Nantinya, sambung dia, biar pengadilan yang akan memutuskan gugatan tersebut.

’’Pengadilan adalah jalan  terbaik untuk memutuskan sebuah perkara, karena selama ini mediasi yang di jalankan di desa tidak tercapai kesepakatan,’’ ujar dia sembari menyesalkan pemberitaan yang terlanjut menyebutkan ibunya durhaka tanpa ada konfirmasi.

Dalam uraian gugatan, Amaq Yoni telah memberikan hak waris kepada penggugat tanas sawah seluas 20 are dan tanah kebun seluas 51 are. ’’Tanah tersebut diserahkan sejak 2014 lalu dan dibuat surat keterangan keterangan penyerahan hak waris di Kantor Sembalun Bumbung 22 September 2014. Surat itu ditandatangani dan dicap jempol, ada saksi-saksi juga,’’ kata Kuasa Hukum Penggugat, Ramdan Sudiartha.

Setelah membuat surat keterangan itu, tergugat 1 mengingkarinya. Dia menjual tanah sawah kepada tergugat 2 dan tanah kebun kepada tergugat 3. ’’Penjualan tanah sawah dan kebun tidak mengikutkan klien kami. Kecuali penjualan sebagian dari tanah sawah,’’ jelasnya.

Tergugat 1 menjual tanah sawah kepada tergugat 2 seluas 11 are dari luas 20 are pada 2014 sebesar Rp 100 juta. Ditambah dengan sebidang tanah pekarangan seluas 1 are. ’’Tanah pekarangan itu telah dibangun rumah yang menjadi tempat tinggal penggugat,’’ ungkapnya.

Selain itu, tergugat 2 disebut melanggar ketentuan jual beli yang telah disepakati. Tergugat 2 membeli tanah seluas 11 are, namun faktanya dia menguasai keseluruhan tanah seluas 20 are. ’’Tergugat 2 juga mengambil kembali tanah pekarangan dan rumah yang seharusnya menjadi milik penggugat,’’ katanya.

Akibat perbuatan para tergugat, tambah Ramdan, kliennya mengalami kerugian Rp 310 juta karena tergugat telah membangun rumah di tanah pekarangan. Selain itu, penggugat tidak bisa mengerjakan tanah sawah seluas 9 are selama 7 tahun yang menyebabkan kerugian Rp 240 juta. ’’Kami meminta hakim agar semua objek sengket dikembalikan kepada penggugat,’’ pinta dia. (arl/r8)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS