page hit counter

Hujan Besar, Pak Joni Sendirian Bersihkan Selokan di Mataram

MATATAM-Rinai hujan masih turun deras. Sementara kebanyakan orang buru-buru kabur atau menepi mencari tempat berteduh. Tapi, Joni Suhaidi malah menceburkan diri ke selokan berair coklat itu.

Tubuhnya yang kekar mengangkat batang pohon randu yang hanyut seukuran setengah pelukan orang dewasa.

Bukan main beratnya, apalagi ditambah tekanan dari air di seelokan yang deras. “Kalau tidak diangkat nanti airnya semakin naik dan sampah akan masuk ke jalan,” katanya, kemarin (27/10).

Pohon randu itu hanya salah satu saja. Selebihnya ada ranting, plastik, dedaunan, batang pohon pisang, dan segala macam sampah.

“Kasihan nanti (kendaraan) yang lewat kalau sampahnya naik ke atas (bisa terpeleset),” imbuhnya.

Joni terlihat sangat peduli dengan keselamatan pengendara. Sekalipun tubuhnya menebar bau tak sedap dari sampah kali. “Bukan,” katanya sembari tersenyum, saat ditanya apakah dia petugas sampah.

Joni hanya warga kota biasa. Setiap hari berjualan di lapak yang dibuat pemerintah kota di samping kantor Imigrasi I TPI Mataram.

“Hanya dengan cara ini saya bisa berterima kasih karena sudah diberi izin berjualan di sini,” ungkapnya dengan nada santun.

Sebelumnya Joni berstatus pendatang di kota. “Saya aslinya Lombok Tengah,” terangnya.

Tetapi kini dia telah mengantongi KTP warga kota. Dan dia ingin menunjukkan rasa terima kasihnya dengan menjaga kota.

“Saya cuma bisa bantu dengan cara ini, semoga ini bermanfaat,” katanya parau. Suaranya beradu dengan nafasnya yang menderu kelelahan.

Mengapa tidak meminta Petugas PUPR datang? “Kalau menunggu lama, keburu airnya naik, ya saya coba kerjakan apa yang saya bisa,” ujarnya ramah.

Lelah, sudah pasti. Tapi Joni merasa bangga. Dua tumpukan sampah yang menggunung semua diangkat dengan kedua tangannya.

Tubuh boleh macho, rambut gondrong boleh dikuncir.

Tapi dada harus menyimpan niat mulia. Joni menggambarkan dengan sangat baik bagaimana seharusnya warga kota berbuat untuk tempat tinggalnya. Walau bukan tanah kelahirannya.

“Mereka yang menebang pohon (di hilir) tahunya cuma cepat beres, buang sampah ke selokan. Sementara di sini (hulu) yang kena dampaknya,” katanya sembari menarik nafas.

Saban waktu bila sampah penuh, Joni membersihkan dan menjaga tempat itu. Kebetulan saja Lombok Post mendapatinya tengah berjibaku saat itu.

“Hujan deras lagi, silaq (berteduh),” katanya menyarankan Koran ini menghindari guyuran hujan yang semakin deras.

Joni kembali berjibaku mengangkat sampah di sana. Sehingga ketika petugas PUPR atau Dinas Kebersihan datang, nanti tinggal diangkut.

Joni bukan petugas angkut sampah kota. Tak ada insentif untuk kepeduliannya menjaga selokan itu.

Dia hanya ingin menjadi sebaik-baiknya warga kota.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Miftahurrahman menegaskan kesiapannya menyambut musim hujan.

Mengantisipasi potensi genangan hingga banjir akibat luapan drainase, parit, hingga kali.

“Petugas kami siagakan, begitu ada genangan mereka akan turun mengurai penyumbatan saluran akibat sampah atau lainnya,” katanya.

Beberapa titik yang rawan telah diantisipasi. Seperti di jalan Selaparang, Kelurahan Mayura dijamin bebas genangan.

Petugas telah dikerahkan untuk membersihkan saluran tersumbat.

“Begitu juga titik-titik lain, misalnya saluran wilayah Kekalik Kompleks Perumahan Kehutanan,” terangnya.

Miftah cuma berharap masyakat lebih disiplin. “Cuma kami minta tolong jangan buang sampah ke saluran drainase,” pintanya. (zad/r3)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS