page hit counter

Homestay di KEK Mandalika Standarisasi Harga

MATARAM-Pembangunan homestay di Lombok Tengah khususnya kawasan sekitar Kuta Mandalika terus dikebut. Sembari menunggu, saat ini pemerintah juga tengah menyusun payung hukum aturan terkait standar harga kamar homestay.

Pembentukan keseragaman harga dibuat agar tak ada perusahaan yang dapat mengerek harga pasar. Sistem ekonomi pasar membentuk persaingan bisnis antara pelaku bisnis homestay satu dengan yang lainnya.

”Pembangunan dan penentuan harga ini dikebut untuk menyambut WSBK (SuperBike, Red),” kata Jamaluddin, kepala Dinas Perumahan dan Permukiman NTB, (19/9).

Ia menduga, jumlah penyedia homestay dan tamu akan sangat banyak. Sebab akomodasi menjadi kebutuhan yang amat krusial. Ketentuan keseragaman harga membuat pengusaha maupun tamu mau tak mau harus mengikuti harga pasar. Selanjutnya, terkait kelengkapan informasi homestay yang ditawarkan. Homestay-homestay ini nantinya akan dikelola oleh Badan Usha Milik Desa (BUMDes) di sekitar KEK Mandalika.

Diharapkan, homestay yang dibangun oleh pemerintah pusat ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku pariwisata serta mengakomodir kebutuhan penginapan selain perhotelan. ”Koordinasi mulai gencar digelar bersama Kemenparekraf, Kemenko Marvest, bupati hingga camat dan kades setempat,” jelasnya.

Total homestay terbangun sebanyak 817 unit. Dengan sebaran alokasi sarana hunian sementara (sarhunta) sebanyak 300 unit, dan di area koridor 517 unit. Di sebar di delapan titik desa. Untuk Kecamatan Pujut  diantaranya ada di Desa Selong Belanak dengan sarhunta 25 unit dan koridor 56 unit. Desa Mekar Sari hanya ada di koridor 45 unit. Sementara yang ada di Kecamatan Pujut, ada Desa Kuta dengan sarhunta 200 unit dan koridor tujuh unit. Desa Sengkol masing-masing sarhunta dan koridor 50 dan 101 unit. Desa Sukadana ada sarhunta 25 unit. Selanjutnya Desa Tanak Awu dan Desa Ketara, terdapat di area koridor dengan jumlah sama-sama 85 unit.

Begitupun dengan Desa Rembitan 84 unit, Desa Prabu dan Desa Tumpang keduanya punya 27 unit. ”Homestay-homestay ini dibangun Balai Penyedia Perumahan Nusa Tenggara Satu oleh Kementerian. Sementara yang lainnya masih on process,” katanya.

Pemerintah NTB berperan dalam mendukung akses jalan lingkungan alias bantuan prasarana, sarana, dan utilitas umum. Sebab homestay dibangun di desa sehingga membutuhkan akses jalan yang lancar dan layak. Pihaknya pun mengaku siap dengan kolaborasi tersebut menyambut perhelatan event Internasional. Kedepan diharapkan ada kolaborasi juga bersama para pelaku transportasi termasuk maskapai penerbangan hingga usaha travel untuk membuatkan paket-paket perjalanan yang langsung dihubungkan dengan homestay-homestay tersebut.

”Ini harus dikolaborasikan, biar masyarakat juga tau terkait lokasi dan standar harga dan sebagainya,” imbuhnya.

Pelaku usaha travel juga sedang bersiap menyambut perhelatan event internasional ini. Pada prinsipnya mereka akan mereaktivasi produk atau ketentuan jasa yang sudah ada sejak sebelum ada pandemi Covid-19. Estimasi harga pun berkurang 10-15 persen.

Tantangannya adalah, menjaga performa para pramuwisata agar tetap maksimal meski telah vakum selama hampir dua tahun lamanya. Diperkirakan tenaga kerja yang diserap nantinya adalah mereka yang sudah lama dirumahkan. ”Jika membludak, baru akan dibuka rekrutmen tenaga kerja,” kata Ketua Indonesian Travel Agent Assosiation (Astindo), Awanadhi Aswinabawa. (eka/r9)

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS