page hit counter
Hari Tani Nasional Jadi Momen Bagi AGRA Gelar Sidang Rakyat Melawan Tuan Tanah

Hari Tani Nasional Jadi Momen Bagi AGRA Gelar Sidang Rakyat Melawan Tuan Tanah

Warta Mataram – SEMBALUN, 24 September 2021-Waktu baru menunjukkan pukul 07.00 WITA, ketika suhu dingin Sembalun masih menusuk tulang. Para petani Sembalun bergotong-royong untuk mempersiapkan Hari Tani Nasional di lahan Dalam Petung, sebuah perayaan untuk memperingati perjuangan yang gigih dari kaum tani atas reforma agraria sejati dalam kronik sejarah Indonesia sejak 61 tahun yang lalu.

Di spanduk putih yang terbentang, tertulis sebuah kegelisahan para petani Sembalun: “Sidang Rakyat Melawan Tuan Tanah, Usir PT. SKE”. Di perayaan Hari Tani Nasional tahun ini, para petani Sembalun sedang berhadapan dengan perusahaan konglomerat yang dimiliki oleh Lingga Wijaya Kusuma yakni PT. Sembalun Kusuma Emas (SKE) yang menjadi bagian dari klik Soeharto sejak era Orde Baru.

Para petani ini ingin mendeklarasikan sebuah penghakiman untuk perusahaan melalui sidang rakyat sebagai bentuk penolakan atas keputusan pejabat pemerintah yang dianggap tidak adil ketika mengeluarkan izin HGU baru untuk perusahaan. Pasalnya, izin HGU ini diterbitkan tanpa melibatkan masyarakat, bahkan tanpa mempertimbangkan hak masyarakat yang telah menggarap di atas tanah tersebut selama 26 tahun, ketika perusahaan sendiri banyak melanggar kewajiban hukumnya: mulai dari tidak pernah mengelola tanah di izin HGU yang sebelumnya, menunggak pajak, bahkan lebih parahnya mengklaim telah membeli tanah negara sejak Orde Baru.

Ada sekitar 929 KK yang menggantungkan hidup dan matinya di atas tanah itu, yang hampir seluruhnya adalah petani miskin. Sejak krisis ekonomi di sepanjang pandemi ini, hampir seluruh petani tersebut tercekik hutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Apalagi musim panen tahun kemarin, banyak yang merugi karena hasil panen yang harganya anjlok di pasaran. Di situasi ini, mereka harus berhadapan lagi dengan krisis politik: perampasan tanah yang akan menghancurkan tidak hanya masa kini, namun juga masa depan dan harapan yang ditabur di atas tanah Dalam Petung-Kasia Bajang tersebut.

“Tanah ini menjadi saksi bahwa saya bisa disekolahkan oleh orangtua saya yang hanya petani miskin, dari SD hingga mencapai sarjana. Jika pemerintah ingin mengganti profesi kami di KTP dari petani menjadi maling, silakan ambil tanah ini,” pekik Amrullah dalam orasinya yang memuat amarah sekaligus kegelisahan tentang masa depan yang akan dihancurkan oleh perusahaan.

Konflik agraria ini menjadi bukti bahwa kekayaan memang hanya bisa dibangun melalui penyingkiran kepada orang-orang yang tak berpunya. Dan pemerintah telah menunjukkan keberpihakan kelasnya: bahwa hukum memang milik mereka yang berkuasa. Sehingga rakyat sendirilah yang harus menjadi hakim yang adil terhadap tuan tanah dan pejabat pemerintahan yang hidup dengan menginjak martabat rakyat miskin.

Diakhir acara Petani Dalam Petung-Kasia Bajang bersama-sama, menyatakan sikap, Pertama, Menolak dengan tegas izin HGU PT. SKE di atas tanah Dalam Petung seluas 150 Ha yang akan menghancurkan hak hidup petani yang menggantungkan hak hidup di atas tanah tersebut tanpa gani rugi yang setara, Kedua, PT. SKE tidak selayaknya diberikan izin HGU di atas tanah yang telah dikuasai oleh masyarakat selama 26 tahun, menimbang bahwa dalam rekam jejaknya perusahaan tidak pernah memenuhi kewajibannya untuk mengusahakan tanah tersebut dengan layak, Ketiga, Bahkan jika di paksa untuk keluar, masyarakay tetap akan bertahan di atas tanah tersebut sampai memperoleh ganti rugi yang setara dengan nilai penguasaan tanah, bangunan, dan hasil bumi (tanaman dan pepohonan) yang telah dikelola oleh masyarakat selama 26 tahun.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS