page hit counter

Harga Terigu Naik, UMKM Diajak Gunakan Sorghum

MATARAM-Harga tepung terigu secara bertahap naik. Hal ini disinyalir akibat cuaca yang menyebabkan penurunan produksi di negara asal. Untuk itu, pengusaha kue kering beserta produsen berbahan dasar tepung terigu diminta untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk  tersebut. Salah satunya dengan menggunakan alternatif tepung sorghum.

”Kenaikan harga tepung terigu menjadi peluang yang bagus bagi masyarakat mulai beralih menggunakan tepung sorghum,” kata Nuryanti, kepala Dinas Perindustrian NTB, Senin (11/10).

Ia menilai, pemanfaatan tepung sorghum bisa mewujudkan dua program yang diusung pemda. Diantaranya industrialisasi untuk produk-produk yang merupakan substitusi impor. Selanjutnya adalah program Dinas Ketahanan Pangan NTB melalui program diversifikasi pangan. Selain tepung sorghum, ada juga tepung kentang, jagung, dan beragam hasil pertanian dan perkebunan lainnya seperti ubi kayu, ubi jalar, dan sejenisnya. Tinggal bagaimana mendorong produksi tanam komoditas tadi lebih banyak sebagai panganan alternatif masyarakat.

”Pertanian kita dorong di sisi hulu, IKM kita siapkan untuk pengolahannya,” katanya.

Sejauh ini IKM lokal yang mulai memanfaatkan sorghum sebagai bahan baku pengganti tepung masih sedikit. Padahal jika digencarkan, pelaku usaha dapat ikut menekan nilai impor yang tinggi dengan manfaat kesehatan yang baik. ”Harus mulai dibiasakan,” imbuhnya.

Terpisah, Sayuk Wibawati, pemilik UMKM kue kering Nutsafir mengatakan pemanfaatan tepung sorghum masih sulit karena harganya yang selangit. Yakni mencapai Rp 40 ribu per kilogram. Sementara tepung terigu, meski harganya naik, masih relatif lebih murah Rp 7.200 per kilogram. Jika menggunakan tepung sorghum, tentu pihaknya harus mulai menargetkan pasar baru khususnya kalangan pecinta kesehatan. Sementara selama ini, menargetkan pasar luas dengan harga yang lebih terjangkau namun tetap bergizi.

”Berarti pasar baru ini yang harus kita akali,” katanya.

Kenaikan harga tepung terigu sendiri dirasakannya sejak beberapa bulan belakangan. Dari yang awalnya Rp 150 per karung atau 25 kilogram, naik menjadi Rp 160 ribu, kini Rp 180 ribu. Pihaknya biasa memproduksi kue kering hingga 50 kilogram dengan kebutuhan 25 kilogram tepung terigu per hari. Kenaikan harga tepung terigu ini juga dibarengi naiknya harga minyak goreng serta kertas kemasan. ”Untuk kertas kemasan sendiri naiknya paling fantastis, 30-40 persenan,” katanya.

Jika kenaikan biaya bahan baku dan operasional mencapai 10 persen lebih, maka pilihan untuk menaikkan harga jual kue kering lokal ini harus dilakukan. Jika kurang dari itu, masih bisa diakali dengan menekan operasional. Disisi lain, pihaknya juga kesulitan menaikkan harga jual karena kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih terkendala pandemi.

”Kondisi kita baru recovery Covid. Ini salah satu yang bikin stres pelaku usaha sektor ini,” jelasnya.

Ia justru lebih memilih menggunakan tepung mocaf dibanding sorgum sebagai pengganti terigu. Ini merupakan tepung berbahan dasar singkong yang telah dimodifikasi. Harganya juga relatif lebih murah, Rp 25 ribu per kilogram. Sayangnya, tepung jenis ini masih sulit didapatkan. Ia berharap ada industri tepung mocaf di NTB untuk mengurangi biaya pengiriman. Didukung produksi singkong yang melimpah di NTB.

”Kalau ada di lokal tentu harga jual bisa lebih terjangkau,” katanya. (eka/r9)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS