page hit counter
Genjot Kualitas dan Kuantitas Sarang Walet

Genjot Kualitas dan Kuantitas Sarang Walet

PRAYA-Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB mengejar peningkatan nilai ekspor bagi komoditas unggulan sarang burung walet. Melalui pelatihan dan pengembangan kualitas serta produktivitas di Desa Kateng, Praya Barat, Lombok Tengah. Ini dimaksudkan agar pembudi daya mendapat harga terbaik yang akan memberi keuntungan lebih.

”Sarang burung walet ini punya potensi ekspor yang luar biasa. Dan itu tentu arah korelasinya ke potensi ekonomi juga,” ujar Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Iwan Kurniawan, (1/7).

Desa ini didapuk sebagai lokasi percontohan untuk membuka peluang budi daya sarang burung walet di kabupaten lainnya. Pihaknya lantas berupaya agar potensi di desa ini dapat dimanfaatkan maksimal sejak hulu hingga ke hilir. Pelatihan yang diberikan, diantaranya pencucian sarang burung walet selama tiga hari. Dilanjutkan pelatihan peningkatan produktivitas selama dua hari.

Diharapkan, pelatihan tersebut menciptakan kolaborasi menguatkan eksistensi komoditas ini. Kapasitas pengusaha ditingkatkan, juga fasilitasi akses pasar dan pembiayaan.

”Ini salah satu langkah intervensi kita menggenjot kualitas dan produktivitas yang bagus didukung akses pasar yang luas,” jelas Iwan.

Lalu Ading Buntaran, pemilik sekaligus pegiat sarang burung wallet PT Ading Walet Internasional mengatakan, saat ini terdapat 16 unit gedung sebagai rumah burung walet. Mampu menghasilkan hingga 70 kilogram sarang burung walet saat panen setiap tiga bulan sekali. Rencananya, akan ada 99 gedung tiga lantai dibangun di lahan seluas 25 hektare. Bertujuan memperbanyak produktivitas hingga mampu menghasilkan sedikitnya satu kwintal perbulan untuk diekspor.

Upaya ini diyakini membuka lapangan kerja. Untuk proses pencucian, misalnya. Dengan target produksi tiga ton per tahun, kurang lebih membutuhkan sekitar 3.000 tenaga kerja.

Ia mencontoh sejumlah produk hasil olahan miliknya. Diantaranya kopi, bubur, paket camilan, juga sarang burung walet bersih yang dikemas aneka ukuran. Harganya beragam, mulai dari Rp 125 ribu hingga Rp 2,4 juta. Untuk pasar ekspor terbesar saat ini Tiongkok. Pihaknya yakin, potensi produksi dan ekspor sarang burung walet masih akan terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Didukung keterbukaan globalisasi sekarang ini menjadikan sarang burung walet sebagai salah satu andalan bagi devisa dari sektor pertanian. ”Kita dorong supaya budidaya ini bisa memberikan manfaat yang besar di tengah-tengah kita di tengah masa Covid,” ujarnya.

Muaranya, masyarakat lokal akan termotivasi melakukan industrialisasi dengan memproduksi aneka produk berbahan dasar sarang burung wallet yang dipadukan dengan aneka bahan lain. Seperti produk kecantikan, kuliner, kesehatan, dan sebagainya. Terpenting, mampu menggenjot pengiriman ekspor yang lebih besar.

”Jadi kita bisa penuhi permintaan ekspor sarang burung walet bersih, dan olah sendiri untuk konsumsi dalam negeri,” ujar Lalu Saswadi, ketua Yayasan Ammar Sasambo. (eka/r9)

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS