page hit counter
Gebyar Seni Pelajar 2021 Taman Budaya NTB Hari Ketiga

Gebyar Seni Pelajar 2021 Taman Budaya NTB Hari Ketiga

Warta Mataram – Acara Gebyar Seni Pelajar 2021 yang berlangsung di Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat telah memasuki hari ketiga (10/9). Sebanyak empat sekolah berpartisipasi menampilkan karya seni terbaik mereka di hari Jumat ini. Keempat sekolah tersebut adalah SMAN 6 Mataram, SMKN 1 Pekat, SMAN 3 Mataram, dan SMAN 1 Kempo. Acara dimulai lebih awal dibandingkan hari-hari sebelumnya, yakni jam 09.00 WITA. Acara dipandu dengan begitu apik oleh Zaini Muhammad.

Penampil pembuka adalah siswa-siswi dari SMAN 6 Mataram. Mereka menampilkan seni teater yang bertajuk “Portal 19”. Alur singkat ceritanya begini: Di sebuah gang, di dalam kampung yang dipasangi sebuah portal untuk mencegah mobilitas warga kampung, agar terhindar dari covid 19. Namun, dengan adanya portal warga kampung menjadi gila dan penuh ketakutan karena aktivitas mereka dibatasi dan Pak Media yang suka sebar berita-berita tentang virus yang menghantui mereka semua, di tambah lagi ODGJ bernama Koron’ah yang sempat terpapar saat pulang dari luar negeri membuat semua semakin ricuh. Teater mereka menjawab perihal bagaimana cara warga kampung untuk mengatasi semua masalah yang ada pada saat pandemi ini. Ada lebih dari 20 siswa yang terlibat dalam pementasan teater tersebut. Sungguh penampilan yang luar biasa dan mewakili keresahan banyak orang di masa pandemi seperti sekarang ini.

Tampil berikutnya adalah siswa dari SMAN 3 Mataram. Mereka menampikan musik akustik. Lirik lagunya menceritakan tentang anak muda yang tidak remaja lagi, tapi semangat masih membara untuk menjalani kehidupan melalui pesan-pesan cinta pada dunia bahwa Indonesia merupakan surga dunia dengan kekayaan alam yang berlimpah hidup tentram damai dalam kebhinekaan yang dinyanyikan oleh siswa SMAN 3 Mataram yang dikolaborasikan dengan iringan akustik. Ada tiga siswa yang tampil membawakan lagu daerah dan juga modern dengan begitu memukau. “Dari Kuta sampai Ampenan..panas-panas..jalan-jalan..hujan-hujan..jalan-jalan..”. Itulah salah satu penggalan lirik lagu yang dibawakan oleh ketiga siswa dari SMAN 3 Mataram ini.

Peserta berikutnya adalah dua siswa dari SMKN 1 Pekat, Kebupaten Dompu. Mereka menampilkan Gantao: Kolaborasi Silat Adat Mbojo-Dompu Seni tari gantao Mbojo merupakan salah satu tarian adu ketangkasan. Gantao merupakan antraksi yang sangat berbahaya dan dilakukan penari pria terlatih dalam memainkannya. Kedua penari saling menunjukan keahliannya untuk menunjukan siapa diantara mereka yang paling kuat saat beratraksi. Permainan ini diiringi oleh musik tradisional, berupa gendang, gong, ketongga, dan serunai. Gerakan permainan pun seirama dengan dentungan musik. Gantao lahir di Bima (Mbojo) sejak masa kesultanan, hingga sekarang menjadi budaya tradisional masyarakat Bima dalam acara kebesaran dan acara adat. Dari awal sampai akhir, peserta yang tampil hanya dua orang. Namun, mereka berdua berhasil memukau para penonton akan keahlian mereka “berkelahi sekaligus menari”. Apalagi, dalam pentas tersebut, selain berkelahi dengan tangan kosong, mereka juga menunjukkan seni silat dengan menggunakan senjata yang “benar-benar” tajam.

Peserta terakhir dalam gelaran Gebyar Seni Pelajar 2021 di hari ketiga ini adalah siswa-siswi dari SMAN 1 Kempo, Dompu, yang menampilkan tari nelayan. Negeri ini sebagian besarnya adalah laut dan tentunya di sekitar pesisir banyak masarakat kita yang tinggal di sana. Kehidupan masyarakat pesisir adalah sebagai nelayan yang mendapatkan hasil untuk kehidupannya sehari-hari dari melaut untuk menafkahi sanak keluarga. Suka-duka dan tantangan dari nelayan dalam mencari nafkah untuk menopang kehidupan keluarganya tidaklah bisa dianggap mudah. Teriknya matahari, dinginnya malam, badai, dan ganasnya ombak mereka hadapi dengan penuh ketabahan. Sementara rezekinya melaut tidaklah stabil: kadang banyak, kadang sedikit, atau tidak ada sama sekali. Belum lagi keresahan anak-istri yang ditinggal memikirkan keselamatan mereka. Walau dengan berat hati, mereka tetap ikhlas melepas suaminya melaut. Cuplikan gambaran kehidupan nelayan di pesisir pantai Dana Nggahi rawi Pahu ini tergambar dalam “Sendra Tari Nelayan” ini. Kepiawaian siswa-siswi ini tidak lepas dari arahan dan didikan Ibu Kepala Sekolah SMAN 1 Kempo yang ternyata adalah orang yang memang menekuni dunia teater. Baginya, “Hidup di dunia seni itu unik”. Prinsip itulah yang membuatnya bersemangat mengalirkan semangat seni kepada siswa-siswinya.

Warta Mataram – Acara Gebyar Seni Pelajar 2021 yang berlangsung di Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat telah memasuki hari ketiga (10/9). Sebanyak empat sekolah berpartisipasi menampilkan karya seni terbaik mereka di hari Jumat ini. Keempat sekolah tersebut adalah SMAN 6 Mataram, SMKN 1 Pekat, SMAN 3 Mataram, dan SMAN 1 Kempo. Acara dimulai lebih awal dibandingkan hari-hari sebelumnya, yakni jam 09.00 WITA. Acara dipandu dengan begitu apik oleh Zaini Muhammad.

Penampil pembuka adalah siswa-siswi dari SMAN 6 Mataram. Mereka menampilkan seni teater yang bertajuk “Portal 19”. Alur singkat ceritanya begini: Di sebuah gang, di dalam kampung yang dipasangi sebuah portal untuk mencegah mobilitas warga kampung, agar terhindar dari covid 19. Namun, dengan adanya portal warga kampung menjadi gila dan penuh ketakutan karena aktivitas mereka dibatasi dan Pak Media yang suka sebar berita-berita tentang virus yang menghantui mereka semua, di tambah lagi ODGJ bernama Koron’ah yang sempat terpapar saat pulang dari luar negeri membuat semua semakin ricuh. Teater mereka menjawab perihal bagaimana cara warga kampung untuk mengatasi semua masalah yang ada pada saat pandemi ini. Ada lebih dari 20 siswa yang terlibat dalam pementasan teater tersebut. Sungguh penampilan yang luar biasa dan mewakili keresahan banyak orang di masa pandemi seperti sekarang ini.

Tampil berikutnya adalah siswa dari SMAN 3 Mataram. Mereka menampikan musik akustik. Lirik lagunya menceritakan tentang anak muda yang tidak remaja lagi, tapi semangat masih membara untuk menjalani kehidupan melalui pesan-pesan cinta pada dunia bahwa Indonesia merupakan surga dunia dengan kekayaan alam yang berlimpah hidup tentram damai dalam kebhinekaan yang dinyanyikan oleh siswa SMAN 3 Mataram yang dikolaborasikan dengan iringan akustik. Ada tiga siswa yang tampil membawakan lagu daerah dan juga modern dengan begitu memukau. “Dari Kuta sampai Ampenan..panas-panas..jalan-jalan..hujan-hujan..jalan-jalan..”. Itulah salah satu penggalan lirik lagu yang dibawakan oleh ketiga siswa dari SMAN 3 Mataram ini.

Peserta berikutnya adalah dua siswa dari SMKN 1 Pekat, Kebupaten Dompu. Mereka menampilkan Gantao: Kolaborasi Silat Adat Mbojo-Dompu Seni tari gantao Mbojo merupakan salah satu tarian adu ketangkasan. Gantao merupakan antraksi yang sangat berbahaya dan dilakukan penari pria terlatih dalam memainkannya. Kedua penari saling menunjukan keahliannya untuk menunjukan siapa diantara mereka yang paling kuat saat beratraksi. Permainan ini diiringi oleh musik tradisional, berupa gendang, gong, ketongga, dan serunai. Gerakan permainan pun seirama dengan dentungan musik. Gantao lahir di Bima (Mbojo) sejak masa kesultanan, hingga sekarang menjadi budaya tradisional masyarakat Bima dalam acara kebesaran dan acara adat. Dari awal sampai akhir, peserta yang tampil hanya dua orang. Namun, mereka berdua berhasil memukau para penonton akan keahlian mereka “berkelahi sekaligus menari”. Apalagi, dalam pentas tersebut, selain berkelahi dengan tangan kosong, mereka juga menunjukkan seni silat dengan menggunakan senjata yang “benar-benar” tajam.

Peserta terakhir dalam gelaran Gebyar Seni Pelajar 2021 di hari ketiga ini adalah siswa-siswi dari SMAN 1 Kempo, Dompu, yang menampilkan tari nelayan. Negeri ini sebagian besarnya adalah laut dan tentunya di sekitar pesisir banyak masarakat kita yang tinggal di sana. Kehidupan masyarakat pesisir adalah sebagai nelayan yang mendapatkan hasil untuk kehidupannya sehari-hari dari melaut untuk menafkahi sanak keluarga. Suka-duka dan tantangan dari nelayan dalam mencari nafkah untuk menopang kehidupan keluarganya tidaklah bisa dianggap mudah. Teriknya matahari, dinginnya malam, badai, dan ganasnya ombak mereka hadapi dengan penuh ketabahan. Sementara rezekinya melaut tidaklah stabil: kadang banyak, kadang sedikit, atau tidak ada sama sekali. Belum lagi keresahan anak-istri yang ditinggal memikirkan keselamatan mereka. Walau dengan berat hati, mereka tetap ikhlas melepas suaminya melaut. Cuplikan gambaran kehidupan nelayan di pesisir pantai Dana Nggahi rawi Pahu ini tergambar dalam “Sendra Tari Nelayan” ini. Kepiawaian siswa-siswi ini tidak lepas dari arahan dan didikan Ibu Kepala Sekolah SMAN 1 Kempo yang ternyata adalah orang yang memang menekuni dunia teater. Baginya, “Hidup di dunia seni itu unik”. Prinsip itulah yang membuatnya bersemangat mengalirkan semangat seni kepada siswa-siswinya.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS