page hit counter
Gawe Alif, Perayaan Tahun Baru Islam dalam Bingkai Kebudayaan  Masyarakat Sasak Lombok

Gawe Alif, Perayaan Tahun Baru Islam dalam Bingkai Kebudayaan Masyarakat Sasak Lombok

Warta Mataram – Waktu merupakan satu diantara banyak hal di muka bumi ini yang tak bisa kita hentikan. Waktu akan selalu berputar dan berlalu dengan semestinya sesuai dengan Sunatullah yang ada. Perputaran waktu yang stabil dari waktu ke waktu menandakan bahwa kita hidup dibawah naungan yang Maha Kuasa Allah SWT Tuhan Semesta Alam. Sekaligus ini membuktikan bahwa kekausaannya begitu Maha Dahsyat dimana terbit tenggelam Matahari, waktu berganti dr detik menit hingga ke jam, hari berganti demi hari menjadi minggu, bulan dan tahun. Semua merupakan kehendak dan kuasa-Nya yang tak mungkin kita lawan atau tolak.

Salah satu momentum yang penting bagi kehidupan manusia dalam menghitung waktu yaitu momen pergantian tahun atau yang sering dikenal dengan tahun baru. Detik-detik pergantian akhir tahun adalah saat–saat yang sangat bersejarah dan menggembirakan dalam lembaran kisah hidup umat manusia. Sehingga pada momen ini sebagian orang menyelenggaraan berbagai kegiatan yang terkait dengan pelepasan dan penyambutan tahun baru tersebut. Begitu juga dengan masyarakat muslim, sebagian besar juga melakukan perayaan penyambutan tahun baru Islam, yang artinya menyambut tanggal baru yaitu 1 Muharram.

Masyarakat yang merayakan masuknya tahun baru Islam menganggap bahwa tanggal 1 Muharram sebagai sebagai awal dimasukinya tahun baru Islam merupakan hari besar Islam yang patut disambut secara meriah. Berbagai kegiatan dilakukan oleh masyarakat, diantaranya memasang spanduk menyambut tahun baru, mengadakan pengajian khusus, serta pembacaan doa akhir tahun serta doa awal tahun yang dilakukan di masjid-masjid dan surau-surau atau bahkan hanya sekedar memasang foto selfie dengan ucapan selamat tahun baru di medsos. Begitulah ungkapan kegembiraan umat muslim dalam menyambut tahun baru Islam, begitupun pula dengan masyarakat tradisi yang juga ikut merayakan moment perpindahan tahun ini.

Salah satu yang merayakan yaitu masyarakat Sasak Tradisi di Lombok. Masyarakat suku Sasak merayakan perpindahan tahun atau tahun baru berdasarkan pada perhitungan tradisi Kalender Rowot Sasak. Kalender Rowot Sasak merupakan penanggalan tradisi masyarakat suku Sasak yang sistemnya sangat mirip dengan kalender hijriyah, yaitu menggunakan peredaran fase bulan dalam menghitung hari dan bulannya. Hal ini dikarenakan sistem yang diadopsi oleh Kalender Rowot Sasak adalah sistem Kalender Hijriah. Walau aselinya Sistem penanggalan Kalender Rowot Sasak pada dasarya merupakan sinkronisasi antara sistem penanggalan Rowot, sistem penanggalan Masehi, dan sistem penanggalan Hijriyah.

Sistem dalam kalender Rowot Sasak sangat dekat dengan sistem penanggalan hijriyah. Hal ini dapat dilihat dari jumlah hari dalam satu bulan dan jumlah serta nama bulan sedikit banyak mengadopsi dari peristiwa-peristiwa di bulan-bulan dalam penanggalan Hijriyah. Jika didalam Hijriyah terdapat 12 bulan, yaitu Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, ramadhan, Syawal, Dzulqaidah dan Dzulhijjah. Maka di dalam kalender Rowot merubah penamaannya menggunakan bahasa Sasak yang disesuaikan dengan peristiwa serta keadaan bulan saat itu. Dua belas bulan dalam kalender rowot sasak antara lain dimulai dari Bubur Puteq, Bubur Beaq, Mulud, Suwung Penembeq, Suwung Penengaq, Suwung Penutuq, Mi’raj, Roah, Puase, Lebaran Nine/Kodeq, Lalang dan Lebaran Mame/Beleq.

Sementara itu hari di dalam Kalender Rowot Sasak tidak memiliki perbedaan dengan kalender pada umumya yaitu sama- sama berjumlah 7 hari dalam seminggu dan 29/30 per bulannya. Penamaan hari di dalam Kalender Rowot Sasak lebih cenderung mengadopsi nama-nama dalam kalender Hijriah, sebab menyebut hari minggu dengan ahad. sedangkan siklus yang digunakan dalam Kalender Rowot Sasak menggunakan sistem Windon, yaitu sistem siklus 8 tahunan, seperti kebanyakan kalender Nusantara. Delapan tahun yang dimaksud yaitu: Tahun Alip, Ehe, Jimawal, Se, Dal, Be, Wau dan Jimahir. Selayaknya banyak kalender islam nusantara, Kalnder Rowot, Sasak pun mengacu pada kitab tajul muluk, dan secara tradisi mengacu pada kitab Lontar Wariga Sasak.

Perayaan tahun baru Islam 1443 H yang bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2021, juga dirayakan oleh masyarakat suku Sasak. Hal ini dikarenakan penanggalan mereka yaitu kalender rowot sasak memiliki sistem yang sangat mirip dengan kalender Hijriyah. Namun, perayaan kali ini harusnya begitu sangat istimewa bagi masyarakat suku Sasak. Keistimewaan itu terletak pada nama tahun yang diperingati saat ini yaitu Tahun Alif, artinya kalender Rowot Sasak mencapai titik puncak dan titik awal siklus peradaban kalendernya.

Secara tradisi ini merupakan momentum besar bagi penanggalan Kalender Rowot Sasak, sebab siklus 8 tahunan yang digunakan mencapai titik puncak dan awalnya yaitu kembali pada tahun Alif. Tidak hanya sebagai perputaran waktu, namun secara tradisi kembalinya tahun pada tahun alif menggambarkan pengharapan baru pada kehidupan mereka.

Masyarakat Sasak (Lombok) biasanya memperingati masuknya tahun alif dengan tradisi gawe alif, yaitu sebuah ritual panjang memperingati kembali tahun alif dari siklus 8 tahunan itu. Menurut mamiq Agus Faturrahman bahwa Ritual gawe alif ini dimulai dari 1 Muharram (Bubur Putiq) sampai pada puncaknya nanti hari kamis pertama pada bulan Syawal (Lebaran nine/kodeq) dan ditutup dengan rowah jumat esoknya. Gawe alif sendiri seperti siklusnya yaitu hanya dirayakan dalam hitungan 8 tahun sekali, sehingga gawe ini betul-betul dinanti oleh masyarakat suku Sasak. Gawe alif ini secara umum bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar semua makhluk yang ada di dunia ini memperoleh berkah dan perlindungan-Nya.

Namun, dengan adanya kondisi pandemi covid-19 ini, maka perayaan ritual ada gawe alif dilakukan dengan sangat sederhana di masing-masing kampung atau daerah di Lombok. Terutama masyarakat Lombok Tengah bagian selatan dan masyarakat Lombok Utara yang memegang teguh perhitungan waktu tradisi ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hadirnya tahun alif juga menghadirkan harapan baru bagi masyarakat suku Sasak atau Lombok secara umum agar pandemi covid-19 ini segera berakhir dan kehidupan kembali normal.

Oleh:
Muhammad Awaludin
Dosen Ilmu Falak UIN Mataram

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS