page hit counter

Cerita Dari Ampenan : Sensasi Jual Beli Emas di Gang Bawi

Ibu-ibu dengan tas kecil terselempang di pundak. Menunggu dengan awas setiap orang yang berhenti di depan mulut Gang Bawi (Babi, Red). Satu kalimat sapa yang lazim mereka ucapkan: mau jual emas?

 

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

 

BELUM saja motor diletakkan dengan sempurna, seorang wanita menghampiri dengan tergopoh-gopoh.

“Jual emas pak, mana emasnya?” tanyanya, kemarin (18/10).

Ditodong langsung dengan pertanyaan seperti itu, tentu saja bikin gelagapan. Kebayang bagi orang yang tidak pernah tahu di sana biasa dilakukan jual-beli emas ala-ala terminal.

Sudah dijelaskan, sekadar mau melihat-lihat suasana, ibu itu terus ngoyo.  “Bapak Wartawan, Ayo jual berapa emasnya, se-gram Rp 750 ribu sudah,” sambungnya, mulai menawar.

Geli juga ditanya, padahal tidak sedang membawa dan berniat jual emas. Tetapi ibu itu dengan sangat menggebu terus meminta emas segera dikeluarkan.

Sensasinya diberondong pertanyaan seperti itu: unik dan seru. Apalagi kalau benar-benar berhenti tak membawa emas yang akan dijual, harus siap lagi mengulangi jawaban yang sama.

Sebab sejurus kemudian, ibu-ibu yang lain sudah mendesak agar emas dikeluarkan.  “Mana makanya emasnya pak, soal harga bisa kita bicarakan, ayo mau jual berapa pun kami siap,” kata ibu yang lain tak kalah semangat.

Kini sudah empat ibu-ibu yang mengerubuti. Satu sudah dijawab yang lain mengulang lagi pertanyaan serupa.

Ketika akhirnya memutuskan keluar dari gang Babi, menuju arah jalan Yos Sudarso ibu-ibu itu masih menguntit dengan langkah-langkah yang lebar.

“Tahiyan (nama toko emas tempat berdiri, Red) tutup pak, mau jual kalung, gelang, cincin?” tanya salah satu di antara mereka lagi.

Sampai akhirnya, mereka yakin tidak ada emas di dalam tas, barulah satu persatu kembali lagi ke gang Babi. Tinggal seorang ibu, berusia 60 tahun.

“Ayo mana emasnya nak?” tanyanya dengan nada pelan.

Luar biasa! Mereka pantang menyerah. Pantas saja lokasi itu tetap terawat image-nya sebagai tempat jual emas dan perhiasan yang legendaris.

“Mau jual berapapun saya siap, mau harganya sampai Rp 100 juta juga kami akan bayar,” katanya.

Tentu bukan ibu itu yang akan membayar. Mereka punya ‘bos’ yang telah menyiapkan uang tunai segepok. Jadi jangan khawatir, selama emas itu asli dan layak dibeli, pasti akan terbayar dengan harga yang pantas.

Gang Babi memang gang yang legendaris. Apa jadinya bila ibu-ibu yang heroik itu tidak ada lagi di sana? Barangkali Ampenan akan hambar dengan hanya bangunan-bangunan tuanya.

Syukurlah mereka masih bertahan di sana. Setidaknya bagi yang rindu dengan tawar-menawar logam mulia dengan sensasi berbeda, cukup mengunjungi gang itu. Sensasi dan suasananya tetap terawat hingga puluhan tahun.

“Saya sudah 30 tahunan (jual-beli emas di sini),” kata ibu berusia 60 tahun itu. Namanya Nurhayati.

Panggilan bekennya Nurun. Bukan Nurul. Sekali lagi Nurun.

Dari zaman jalan kaki, naik Cidomo, hingga kini dengan mudah naik ojek, saban hari Nurun menghabiskan hari sampai matahari tenggelam di sana. Bersama sekitar 20 ibu-ibu pemburu penjual emas lainnya.

“Alhamdulillah tujuh anak saya, bisa saya sekolahkan lewat usaha ini,” ungkapnya.

Salah satunya telah bekerja di Dinas Perhubungan. Ada juga yang pernah disekolahkan di sekolah tinggi kepariwisataan. “Tapi tidak sampai selesai,” ungkapnya.

Kini di usia yang semakin senja, tanggungan hidupnya tinggal satu lagi. “Semoga rezeki tetap mengalir untuk keluarga kami,” harapnya.

Selama 30 tahun bukan waktu yang singkat mencari rezeki di gang legendaris itu. Ragam suka dan duka telah dialami Nurun.

Sukanya, Nurun bisa pulang dengan untung yang cukup bagi keluarga. Dukanya pernah ditipu, oleh orang-orang yang menjual emas bodong.

“Begitu uang saya keluarkan dan hendak mengecek emas itu, dia langsung tancap gas dan menyambar uang saya,” kenangnya.

Tetapi sampai kapanpun Nurun tak akan meninggalkan tempat itu. Rezeki yang telah dia dapat lebih banyak dari pengalaman pahit.

Nurun ingin tetap di sana sampai menua. Sampai warna uang tak lagi jelas di kedua matanya.

“Memang mau ke mana (kerja) di sini Alhamdulillah, selalu ada rezeki yang baik dari sang Pencipta,” tutupnya.  (*/r3)

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS