page hit counter
Cegah Learning Loss dengan Sebar Mahasiswa ke Pelosok

Cegah Learning Loss dengan Sebar Mahasiswa ke Pelosok

MATARAM-Pemerintah akan menyebar ribuan mahasiswa, ke seluruh Indonesia untuk membantu proses pembelajaran. Hal itu dilakukan Kemendikbud Ristek melalui Program Kampus Mengajar (PKM) angkatan kedua, guna mencegah learning loss.

”Ada mahasiswa dan dosen kami, yang juga ikut berpartisipasi dalam program ini,” ucap Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Unram Prof HA Wahab Jufri, (2/8).

Kepada Lombok Post dirinya menjelaskan, tujuan program ini membantu siswa daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal). Sebagian besar pelajar di wilayah tersebut, mengalami kesulitan melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Mahasiswa FKIP Unram juga sudah ikut berpartisipasi di PKM angkatan pertama. ”Pada tahap pertama di semester ganjil tahun 2020, ada 92 mahasiswa kami yang ikut bergabung,” terangnya.

Untuk PKM angkatan kedua ini, mahasiswa dan dosen Unram sudah masuk proses seleksi. Ia merasa bangga, sekaligus bersyukur, lantaran kali ini banyak mahasiswa yang mendaftar. ”Ada 149 mahasiswa kami yang dinyatakan bisa ikut,” terangnya.

Syaratmya, mahasiswa minimal semester lima, memiliki IPK 3,0 dan berasal dari perguruan tinggi dalam naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud Ristek, dengan program studi terakreditasi B.

Untuk dosen pembimbing, masih menunggu pengumuman resmi Kemendikbud Ristek. ”Diumumkan dalam waktu dekat,” tegas sang guru besar.

Pihaknya sangat mendukung program tersebut. Dengannya, maka sebaran partisipasi mahasiswa bisa sampai ke daerah-daerah pelosok. ”Karena pada umumnya penempatan mahasiswa sesuai daerah asal dan sekarang, daerah dengan status 3T tentu menjadi prioritas,” kata dia.

Dekan menyebut, PKM memiliki empat poin penting. Yaitu melanjutkan pembelajaran masa pandemic, terutama untuk SD dan SMP di daerah 3T. Selanjutnya, menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan pembelajaran literasi dan numerasi. Tak ketinggalan menjadi mitra guru dalam melakukan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran.

”Selain itu, mahasiswa juga dapat berkontribusi dalam mendukung kepala sekolah melakukan efisiensi administrasi dan manajerial sekolah,” terangnya.

Hal tersebut sesuai dengan kebijakan Kampus Merdeka, yang mengizinkan mahasiswa untuk belajar di luar kampus hingga dua semester atau 40 SKS.

”Mahasiswa sebagai bagian dari generasi penerus dapat berpartisipasi langsung dalam upaya mengurangi kemungkinan learning loss sebagai dampak pandemi,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan NTB H Rumindah tidak memungkiri, sektor pendidikan kini sangat terganggu. Pola pembelajaran yang berubah secara mendadak, menciptakan dampak luar biasa. Salah satu yang paling dikhawatirkan, adalah learning loss.

”Maka berapa pun jumlah populasi yang berpeluang mendapat dampak buruk itu, pemerintah harus menyikapinya dengan serius,” tegas dia. (yun/r9)

 

Source: Lombok Post

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS