page hit counter
Berbekal Sebuah Luka, Penulis dari Bima Ini Menghadirkan Buku Berdakwah Dengan Cinta

Berbekal Sebuah Luka, Penulis dari Bima Ini Menghadirkan Buku Berdakwah Dengan Cinta

Haeruddin namanya, seorang anak muda dari Bima, Nusa Tenggara Barat, telah berhasil menelurkan sebuah buku yang terlahir dari kegetiran hidupnya di masa lalu. Buku yang berisi cerita hidup dan disisipi beberapa puisi ini sungguh menyentuh hati karena ditulis dengan penuh penghayatan. Ada penjiwaan di dalamnya yang membuat buku ini layak dibaca banyak orang. Haeruddin adalah anak muda yang berhasil mentransformasi luka batinnya menjadi sebuah karya yang menginspirasi. Itu pula yang membuatnya semakin dekat dengan Allah, kemudian mencoba berdakwah melalui hobinya mengendarai vespa.

Buku yang berjudul Vespa: Berdakwah dengan Cinta ini adalah tentang perjalanan hidup dan mati seorang anak muda yang ingin istiqamah di jalan yang baik dan benar, serta baik dan buruknya niat manusia yang ada di dunia ini. Penulis menyusun buku ini sesudah buku Vespa Islami. Sebuah buku yang penulis susun ini sejak bertemu dengan perempuan yang penulis cintai sampai berpisah bersamanya. Hingga penulis memilih jalan lain untuk berkembang dan maju dalam dunia menulis puisi maupun buku. Ketika penulis menyusun buku ini, banyak pelajaran-pelajaran dan pengalaman-pengalaman yang penulis dapatkan untuk menjadi modal atau pedoman hidup ini.

Perempuan itu menjadi sumber lahirnya buku ini. Cinta yang melekat dalam jiwa raga penulis hingga membentuk karakter penulis untuk menjadi pintar sekaligus bodoh. Itu adalah modal penulis berjuang dengan Vespa tua dalam medan hidup. Walaupun apa yang penulis perjuangkan tidak dapat penulis nikmati dalam kehidupan nanti. Oleh karena itu, perjalanan ini sangatlah panjang dan bahkan juga pendek sekali dalam kehidupan. Tetapi sekiranya ada pelajaran yang sangat berharga bagi penulis pribadi yaitu: Mengambil jalan yang Allah Ridhoi.

Penulis membuat buku ini sebagai rasa hormat dan terimakasih penulis sebanyak-banyaknya pada perempuan tersebut. Tidak ada perempuan lain yang menemani penulis saat menulis buku ini selain mengenang wajah perempuan itu. Pikiran dan hati penulis dihantui oleh masa-masa indah dan masa-masa kecewa bersamanya. Hingga penulis membuat buku ini, syair-syair di dalamnya mengandung hikmah kehidupan dan peradaban manusia yang akan datang. Bulan Agustus Tahun 2020 sampai dengan Bulan Maret Tahun 2021 penulis mendorong diri untuk berani menggungkapkan kisah perjalanan lewat tulisan.

Anak muda yang lahir dari latar belakang miskin seperti penulis ini, selalu ditimpa oleh kegagalan yang panjang. Namun, penulis coba memaksa diri untuk bangun dari lamunan panjang. Hingga tulisan penulis sebelumnya yang berjudul “Vespa Islami” membawa penulis pada Media Televisi di Lombok TV, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada bulan Maret Tahun 2021. Mudah-mudahan perempuan itu sudi mendengarkan apa yang sudah penulis sampaikan sebelumnya, sampai mati penulis tidak bisa melupakanya. Penulis tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menulis dan berkarya, penulis sering merenung sendiri. Berasal dari perjalanan itu penulis kembali melihat langit biru, berasal dari itu pula penulis di kenal oleh orang-orang besar.

Dalam perjalanan waktu, penulis menyusun kembali pikiran dan entah apa sebabnya penulis menjadi dekat dengan Allah SWT. Suatu hidayah datang yang tidak penulis sangka-sangka yang membentuk perjuangan hidup dan riwayat hidup. Walaupun sekiranya cara penulis berjuang dengan Vespa tua sangat aneh. Tapi sekiranya penulis menjadi anak muda yang bermanfaat bagi orang lain.

Penulis masih ingat betul keputusan itu, dan penulis berterimakasih dengan keputusan itu, air mata yang tak penulis sadari membanjiri pipi penulis. Waktu penulis tidak pandai menulis tapi semenjak air mata itu keluar dan rasa sakit hati yang parah penulis bisa menulis dan jadi bijak hehe. Saat itu pula, penulis mulai mengumpulkan foto-foto dan video-video lama bersama perempuan itu sehingga lahir kata-kata yang baru dari Vespa Berdakwah ini.

Waktu itu umur penulis 23 tahun, penulis telah menyusun dan berencana, bahkan penulis habiskan waktu dua bulan untuk menyusun rencana itu agar menikahi perempuan di umur penulis 25 Tahun, karena perempuan itu juga bisa menyelesaikan pendidikanya di perguruan tinggi. Tapi sungguh indah skenario Allah untuk penulis dan untuk perempuan itu. Ini semua Allah SWT telah menyadarkan penulis dengan melihat dan mengetahui langsung sifat asli perempuan tersebut. Allah SWT juga segenap mengetahui dari dalam urat nadi, ke seluruh pembuluh darah.

Tidak hanya itu, berhari-hari penulis tergila-gila karena keputusannya tanpa sebab akibat yang jelas. Dua kata yang membekas dalam hati dan pikiran penulis adalah: ”Kita putus.” Allah mendengar dan menggabulkan doa itu, hingga kami tidak komunikasi dan bertemu seperti biasanya. Tapi penulis masih hidup, masih berdiri tegak, masih berjalan, masih berlari kencang serta masih bisa berkarya. Yang tertanam dalam sanubari penulis waktu itu. Penulis akan tunjukan pada perempuan itu bahwa penulis bisa hidup selama-lamanya dengan apa yang penulis lakukan. Penulis masih ingat betul ketika penulis duduk sendiri dan melamun. Ibu penulis berkata. ”Nak, terkadang penghianatan itu penting untuk meraih suatu kesuksesan, bangunlah dari lamunan panjangmu.”

 

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS