page hit counter
Berbagai Upacara Orang Sasak yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup

Berbagai Upacara Orang Sasak yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup

Alam sebagai tempat hidup manusia menyediakan berbagai sumber daya untuk meopang hidup dan kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu, segala perlakuan terhadap alam perlu diperhitungkan dan dipertimbangkan. Sebelum dan setelah kita mengambil manfaat dari alam, selayaknya kita menyampaikan rasa syukur melalui upacara untuk mendapatkan keberkahan.

A. Upacara Bertani

1. Bercocok Tanam

Masyarakat Lombok Timur sejak dahulu kala bermatapencaharian sebagai petani. Dalam budaya Sasak, sebelum menanam padi di sawah sebagai bahan makanan pokok, perlu mempersiapkan beberapa hal:

  • Mempersiapkan bibit yang terbaik dari hasil panen tahun lalu yang ditempatkan pada bagian bawah lumbung. Hal ini dimaksudkan supaya bibit tetap terpelihara dengan baik dan tidak dimakan hama.
  • Jika musim hujan diperkirakan akan tiba, para petani mempersiapkan diri menurunkan bibit dengan menyiapkan daun bikan (sejenis rumput), daun jeringo yang akan digunakan sebagai bubus, selanjutnya air untuk merendam perak dan emas dicampur dengan air rendaman empit (kerak nasi).
  • Acara penanaman bibit dengan do’a dan harapan agar buah padi yang ditanam putih seperti perak dan kuning seperti emas. Baru kemudian bibit dihamparkan.
  • Setelah tiba waktunya untuk ditanam, bibit dicabut untuk ditanam secara gotong-royong sesuai jadwal yang ditetapkan oleh pekasih (petugas pengatur air).

2. Panen (Upacara Tong-Tong Suit)

Upacara ini dilakukan apabila tanaman di sawah sudah waktunya dipanen. Pemilik sawah kemudian mencari pemimpin adat untuk mengadakan upacara. Prosesinya adalah:

  • Menyiapkan ancak, yaitu anyaman dari bambu yang berbentuk segi empat yang digunakan sebagai pengganti nare (dulang).
  • Ancak diisi dengan nasi sebatok (seperiuk kecil) dengan dialasi dedaunan.
  • Di atas nasi diletakkan lekoq lekes yang terdiri dari daun sirih, buah penang, tembakau, dan rokok tradisional.
  • Ancak dibuatkan onger-onger dengan daun kelapa yang diikat daun padi.
  • Setelah selesai, barulah pemimpin adat memberikan do’a. Perlengkapan dibawa ke sawah untuk dipasang atau digantung di tempat saluran air pertama yang masuk ke sawah. Pimpinan adat mulai panen dengan membuat inan pade (induk padi) yang diletakkan di atas ancak. Setelah itu, panen bisa dilaksanakan.
  • Panen diawali oleh pemilik sawah yang diiringi terune-dedare (pemuda-pemudi) sambil bekekayaq’ (pantun khas Lombok) secara spontan yang menggambarkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, menggambarkan kehidupan muda-mudi, rasa cinta, dan kekaguman. Pada momen tersebut, tidak jarang terjadi perjanjian merari’ (kawin) antara pemuda-pemudi.

B. Upacara Ngayu-Ayu

Upacara Ngayu-Ayu adalah sejenis upacara penghormatan kepada alam. Kodrat manusia adalah mengambil berbagai keperluan dari alam untuk kelangsungan hidup, apapun wujud, cara, dan media yang dipergunakan, pada hakekatnya tidak lepas hubungannya dengan pencipta, lingkungan, dan sesama manusia.

Dua kebutuhan manusia yang bersifat mendasar adalah kebutuhan lahiriah dan batiniah. Terpenuhinya kebutuhan lahiriah memberikan dampak terhadap kebutuhan batiniah. Sebagai contoh, terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan akan dapat memberikan ketenangan jiwa.

Dengan harapan itulah upacara Ngayu-Ayu dilaksanakan setiap tanggal 5, 15, dan 25 bulan Rajab di desa Sembalun-Lombok Timur. Penanggalan diperhitungkan dengan tahun Sasak yang berputar delapan tahun sekali atau disebut windu. Perhitungan tahun windu dimulai dengan tahun Alif, tahun Ehe, tahun Jimawal, tahun Je, tahun Dal, tahun Be, tahun Wawu, dan tahun Jumahir. Perputaran tahun disebut tahun penitian, sedangkan penyebutan nama bulan memakai nama Hijriyah.

Upacara Ngayu-Ayu dilaksanakan oleh seorang Kyai, Pemangku, Krama Desa. Ngayu-Ayu berasal dari kata Rahayu, artinya memohon keselamatan. Upacara Ngayu-Ayu bermula dari keyakinan masyarakat penduduk Sembalun terhadap Tuhan Sang Pencipta dan kewajiban hamba yang harus menyembah-Nya.

Latar belakang kegiatan ini, mereka percaya bahwa pada zaman dahulu Sembalun didiami oleh tujuh pasangan suami-istri yang hidup secara primitif tanpa mengenal peradaban. Mereka belum mengenal pakaian dan bertani. Dalam keadaan yang demikian, datanglah dua orang, yaitu Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangujaya yang membawa perubahan kepada tujuh pasangan tersebut.

Salah satu pelajaran yang diberikan oleh kedua pendatang tersebut diawali dengan pertanyaan:

  • Maukah kalian menjadi manusia yang beradab dan berpakaian?
  • Maukah kalian hidup di atas tanah ini sebagai manusia selayaknya?
  • Maukah kalian sebagai manusia yang menyembah Tuhan Pencipta kalian?

Ketujuh pasangan menjawab setuju dan pendatang melanjutkan ajarannya dengan memberikan empat macam pegangan hidup, yaitu:

  • Adat dan agama sebagai pegangan hidup.
  • Kitab Al-Qur’an sebagai pedoman adat dan agama.
  • Satu ikat padi merah sebagai makanan.
  • Senjata untuk bertani dan membela diri.

Pada saat itu pula mereka diberi sebuah tempat yang dikenal dengan Sembalun. Di akhir wejangannya, kedua orang tersebut memperingati bahwa pada waktu yang akan datang kalian (orang Sembalun, red.) menghadapi peperangan, tetapi kalian akan mendapatkan pertolongan. Peperangan tersebut adalah:

  • Perang ketupat, yaitu perang melawan iblis.
  • Perang panah beracun.
  • Perang bala’.

Dalam peperangan tersebut, orang Sembalun dibantu oleh Raden Ketip, Raden Sayid Hamzah, Raden Patih Jorong. Ketiga penolong itu dengan mudah mengalahkan iblis dengan melemparkan ketupat sebanyak tiga kali:

  • Lemparan pertama pada tanggal 5 dengan mengucap tanggal lima.
  • Lemparan kedua pada tanggal 15 dengan mengucap tanggal lima belas.
  • Lemparan ketiga pada tanggal 25 dengan mengucap tanggal dua lima.

Ketika lemparan ketiga dilakukan, maka tentara iblis hilang tanpa bekas. Setelah selesai peperangan, Raden Ketip, Raden Sayid Hamzah, dan Raden Patih Jorong berpesan kepada penduduk tanah Sembalun sebagai berikut:

  • Kalian harus mengambil air setiap kali panen padi sebagai tanda kemenangan terhadap iblis.
  • Setiap tiga tahun sekali kamu harus memotong kerbau sebagai rasa syukur atas kemenangan menghadapi peperangan.

Kedua pesan tersebut dilaksanakan dalam upacara peringatan Perang Ketupat yang diperingati setiap tiga tahun sekali oleh masyarakat Sembalun Bumbung sampai sekarang. Inilah yang disebut sebagai upacara Ngayu-Ayu.

Sumber: Gumi Sasak dalam Sejarah dan berbagai sumber

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS