page hit counter
Banyak remaja RI melambai, Denny salahkan TV dan KPI: Boikot!

Banyak remaja RI melambai, Denny salahkan TV dan KPI: Boikot!

Denny Siregar. Foto: YouTube CokroTV

Pegiat media sosial Denny Zulfikar Siregar menyerukan ajakan boikot TV. Ini sebagai buntut dari keresahanya melihat maraknya remaja lelaki Indonesia yang alay, melambai belakangan.

Dia mengaku tak habis pikir, mengapa TV seolah memberi tempat luas bagi para artis melambai yang tak punya prestasi namun menjual sensasi. Terlebih mereka kemudian menularkan efek buruk bagi remaja dan penonton di Indonesia.

“Sakitnya ini karena propaganda televisi kita, yang setelah sejak dibebaskannya frekuensi publik, mereka seperti predator yang terus menghalalkan berbagai cara demi uang. Karena keliberalan (konten) ini pula, kemudian banyak muncul alien-alien artis yang tak punya bakat selain menjual sensasi,” kata Denny dikutip Cokro TV, Selasa 8 September 2021.

Seruan boikot TV oleh Denny Siregar juga dilatarbelakangi munculnya Saipul Jamil di saluran publik. Dia begitu jengkel pelaku pencabulan anak disambut bak pahlawan usai bebas, tanpa memandang perasaan korban.

“Sakit enggak? Ya sakit, pada miring otaknya. Napi paedofilia kok disambut seperti pahlawan. Saipul Jamil juga ikut sakit, enggak ada malu-malunya, dengan bangganya, padahal baru saja keluar dari penjara kasus pencabulan,” katanya.

Saipul Jamil
Saipul Jamil. Sumber Foto: Kilat

Boikot TV jadi solusi

Yang paling menjengkelkan, kata Denny, beliau yang pelaku justru mendapat kontrak banyak stasiun TV yang berlomba mengundang dia demi rating dan uang.

“Saya sendiri enggak paham apa sih hebatnya Saipul Jamil sampai diarak sebegitu rupa. Saya kira yang kemarin itu, yang diarak dan dikalungkan bunga di atas mobil adalah atlet, entah atlet anggar atau bola sodok,” katanya.

Pada kesempatan itu, dia lantas menyinggung soal matinya moral stasiun-stasiun TV. Mereka menampilkan Saipul Jamil tanpa pernah mencoba memperhatikan perasaan korban, yang mungkin sampai saat ini masih bersembunyi karena malu.

Dia juga menyinggung banyaknya tayangan TV yang seolah jauh dari moral dan hanya mementingkan iklan semata. Berbeda saat TV masih dikuasai oleh TVRI, di mana tayangan yang dihadirkan selalu mendidik.

“Beda dengan tayangan TV sekarang, banyak sampahnya. Anak sekarang banyak yang melambai karena banyak idola melambai yang tampil semakin lama enggak sehat,” kata dia.

Ilustrasi menonton televisi. Foto: Glenn Cartens Peters di Unsplash
Ilustrasi menonton televisi. Foto: Glenn Cartens Peters di Unsplash

Memang sejauh ini ada peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Tetapi, tajinya tak pernah terlihat. Mereka tak pernah menyensor tayangan sampah yang sama sekali tak memiliki nilai bagi publik.

Sebut saja seperti tayangan perkawinan artis hingga berjam-jam. Kalaupun beraksi, hanya teguran yang berujung pada pencuekan. “Lalu apa solusinya, boikot tayangan TV. Sekarang sudah banyak channel bebas, tanpa harus kita nonton tv,” katanya.

Sejauh ini, geliat belanja iklan sendiri sudah mulai meredup seiring besarnya perubahan perilaku masyarakat ke digital. Maka itu, dia memperkirakan, tayangan TV perusak moral tak akan bertahan 5 sampai 10 tahun mendatang.

“Dan industri TV sekarang sedang menggali kuburannya sendiri.”

Artikel dari Hops.ID

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS